BERITA TERKINI

1 09 2009

Bupati Wakatobi Diminta Mencopot Kepala Dinas Kesehatan
* Terkait kinerja Dinkes Wakatobi yang dinilai tidak professional

Bau-Bau, Baubau News
Di tengah bangsa ini berupaya untuk menjawab tantangan kesehataan sebagai syarat indikator pencapaian MDGs (Millenium Development Goals) maka Wakatobi masih berkutat pada persoalan-persoalan yang tidak mesti terjadi dalam menurunkan angka kematian dan kesakitan.
Hal ini ditegaskan oleh Ketua Forum Peran Serta Masyarakat (FPSM) Provinsi Sulawesi Tenggara, Abdul Malik Akbar kepada Redaksi Baubau News Group Buton Raya News yang bermotokan ”Media Kami Bukan yang Pertama tapi yang Utama” melalui siaran persnya yang dikirim via e-mail, Rabu (05/07/2010) malam lalu.
Menurut Malik, FPSM Sultra menilai kinerja Dinkes Wakatobi belum memiliki performance yang baik. Beberapa alasan yang dilontarkan oleh Abdul Malik Akbar sebagai Ketua FPSM Sultra, terkait penilaian tersebut, yakni; ”Pertama Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Kesehatan Wakatobi tidak memiliki kemampuan profesional, pasalnya beberapa model kebijakan yang telah dilakukan tidak menunjukan penyelesaian masalah kesehatan dengan baik. Selama masa kepemimpinan di Dinas Kesehatan Wakatobi, Drs La Ode Boa selalu bermasalah dan (sering,Red) melempar tanggung jawab pada bawahannya. Seperti Kasus biaya pengobatan yang dipungut oleh dokter yang menangani pasien seperti yang dirilis salah satu Koran terbitan Sultra tanggal 5 Desember 2009 yang menganggap bahwa Dokter PTT telah nakal dan bersalah “dengan sengaja memintai uang pasiennya sebesar Rp 400.000 hingga Rp 800.000,” ungkapnya.
Dengan kejadian itu, pihaknya menilai Dinkes Kabupaten Wakatobi yang saat ini dipimpin oleh Drs. La Ode Boa dalam menjalankan fungsinya di bidang kesehatan kurang profesional. “Kita sangat menyayangkan seorang Kepala Dinas Kesehatan mengeluarkan statemen seperti itu tanpa melihat kondisi dan fakta yang sebenarnya,” tegas Malik, sembari menambahkan; “Drs La Ode Boa harus melihat fakta lapangan bahwa ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan tidak senantiasa ada sementara tugas dokter adalah menyelamatkan jiwa si pasien agar tidak mati, cacat dan cepat sembuh maka jalan satu-satunya harus memakai obat atau peralatan medis yang mereka sediakan sendiri,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Malik, menjelaskan bahwa, menyangkut pengobatan gratis di Wakatobi Dinkes harus menganalisis lebih jauh dampak dari kebijakan itu dengan melibatkan para pakar kesehatan karena upaya pengobatan gratis bukan upaya satu-satunya untuk menjawab persoalan sehat-sakit di tengah-tengah masyarakat. “Pemda Wakatobi harus memandirikan masyarakat agar mereka tau dan mampu mengatasi sehat-sakitnya mereka dengan konsep-konsep mendidik bukan memanjakan dengan obat-obatan yang berdampak kimia pada tubuh, yakni melalui upaya preventif-promotion, sehingga persoalan Kejadian Luar Biasa tidak terulang lagi,” imbaunya.
Salain itu, masih kata Malik, persoalan penanganan penyakit yang selalu menimbulkan korban meninggal dunia, pihaknya menilai Dinkes Wakatobi tidak melakukan upaya preventif lebih awal. “Beberapa contoh kasus misalnya kejadian diare dan kasus deman berdarah (DBD),” dicontohkannya, seraya, menambahkan; “Misalnya pada tahun ini Kecamatan Tomia telah dua kali dilanda Kejadian Luar Biasa (KLB) yang menimbulkan kematian dan yang paling ironisnya penderita harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bau-Bau dengan mencarter Speed seharga 7-8 juta,” sesalnya, seraya menegaskan, coba Anda bayangkan.
Selanjutnya, masih kata Malik, kasus rekruitmen tenaga honorer yang dipekerjakan di unit pelayanan kesehatan juga telah dia lakukan. “Apalah jadinya bila tenaga honorer yang nota bene adalah tamatan SMU yang tidak memiliki skill dan keterampilan kesehatan akan menangani persoalan kesehatan, mereka akan menambah beban keuangan daerah,” kata Malik dalam siaran persnya. Kemudian dalam rekruitmen CPNSD nanti, sambung Malik, sudah pasti mereka tidak akan diakomodir karena pemerintah pusat yang paling mentukan itu. Dan yang perlu diketahui oleh masyarakat, lanjutnya, tidak ada tamatan SMUatau sederajat yang akan jadi CPNSD untuk ditempatkan di unit-unit sarana kesehatan.
Lebih jauh, Malik mengungkapkan, bahwa sesuai dengan data yang diperoleh pihaknya di lapangan terlihat bahwa tenaga honorer tamatan SMU dipekerjakan pada hampir seluruh POLINDES dan PUSTU di Kabupaten Wakatobi. “Kita sangat menyangkan kebijakan yang telah ditempuh oleh Dinas Kesehatan Wakatobi ini sedangkan di daerah-daerah lain kita tidak menemukan tamatan SMU magang pada sarana kesehatan seperti Puskesmas dan Pustu. Apalagi pemerintah daerah Wakatobi memberikan Honor dengan dana APBD senilai Rp 400.000/jiwa/perbulan. Sebaiknya dana ini digunakan untuk program preventif-promotif yang lebih bermanfaat untuk menjawab sehat-sakitnya masyarakat,” urainya panjang lebar.
Untuk lebih meningkatkan fungsi di bidang kesehatan, sehingga pihaknya telah melakukan berbagai macam terobosan. ”Kami juga telah melakukan riset dimana pendapat tenaga kesehatan yang bertugas di unit-unit pelayanan kesehatan di Wakatobi menilai bahwa telah terjadi krisis kepercayaan pada kepemimpinan Drs La Ode Boa sebagai Kadis Kesehatan, karena menurut mereka sebaiknya yang menjadi Kepala Dinas Kesehatan adalah orang yang memiliki jiwa kesehatan seperti kami sehingga ada ikatan emosional antara atasan dan bawahan,” katanya, sembari menambahkan, maka dari itu melalui kesempatan ini pihaknya minta kepada Bupati Wakatobi untuk mencopot Kepala Dinas Kesehatan Wakatobi dan menggantikannya dengan orang yang lebih memahami konsep sehat-sakit karena Visi Surga Nyata Bawah Laut akan sulit dicapai dan bahkan masyarakat akan selalu memplesetkan visi itu dengan ”neraka di darat” jika kenerja Dinkes Wakatobi tidak menunjukkan hasil maksimal khususnya penanganan kesehatan masyarkat. Hingga berita ini diterbitkan, Wartawan Wakatobi News Group Buton Raya News belum berhasil mengkonfirmasi Kadis Kesehatan Kabupaten Wakatobi tersebut terkait pemberitaan miring ini.(Anto)

Dirgahayu HUT Bhayangkara Polres Wakatobi Diguyur Hujan
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Meskipun pada upacara peringatan HUT Bhayangkara ke-64 di Kabupaten Wakatobi kali ini diguyur hujan, namun semangat peserta upacara dan begitu juga dengan Kapolres Wakatobi, AKBP Pitra Andreas Ratulangi, SIK yang bertindak sebagai Inspektur Upacara, tampak tak sedikitpun “kendor”. Begitu pula dengan peserta lain semuanya tampak selalu siap siaga dalam mengikuti setiap tahapan pelaksanaan upacara.
Adapun rangkaian upacara diawali dengan menyanyikan lagu Mars Bhayangkara. Kemudian dilanjutkan dengan penghormatan kepada Inspektur Upacara, Laporan Komandan Upacara, Mengheningkan Cipta, Pengucapan Tribrata dan Catur Prasetya, Penyampaian Amanat Inspektur Upacara, dan akhirnya upacara pun selesai. Selanjutnya dilakukan acara syukuran dengan pemotongan tupeng oleh Kapolres Wakatobi yang didampingi Ny. Kapolres (Istri Kapolres).
Sebelum dilakukan acara syukuran dengan pemotongan tupeng, Kapolres Wakatobi di bawah rintik hujan pada perigatan HUT Bhayangkara ke-64 itu menyampaikan secara langsung sambutan yang diamanahkan Kepala Kepolisian Negara RI, Jenderal Polisi Drs H. Bambang Hendarso Danuri, M.M.
Hut Bhayangkara yang dihadiri Wakil Bupati Wakatobi, Ediarto Rusmin, BAE beserta Kepala SKPD lingkup Pemda Wakatobi. Hadir pula Petinggi Polres, TNI, Polhut di Wakatobi yang dirangkaikan juga dengan sejumlah acara hiburan sekaligus dengan penyerahan hadiah bagi sang juara yang menjuarai lomba pada perlombaan yang disajikan oleh panitia pelaksana kegiatan menyambut Hut Bhayangkar ke-64 itu.
Adapun pemenang dalam ajang olah raga dan penerima hadiah (piala), yakni untuk mata lomba Bulu Tangkis Full A juara 1 diraih oleh pasangan Zakaria, SH, juara 2 pasangan Nafsahara, juara 3 pasangan dr. Edi. Untuk Full B juara 1 diraih oleh pasangan Iptu La Ode Mulyono, juara 2 pasangan Iwan, juara 3 pasangan Mail.
Untuk juara umum Inkanas diserahkan oleh Kapolres Wakatobi kepada Ketua Umum Cabang Inkanas Wakatobi, Muh Ali, SP. Pada kejuaraan Karate-Do Inkanas, pertama juara 1 diraih Inkanas Cabang SMA 1 Wangi-Wangi (Piala Bupati) diterima Tasri, S.Pd, juara 2 Inkanas Cabang Polres Wakatobi (Piala Kapolres) diterima Brigadir Harianto, juara 3 Inkai Cabang Wakatobi (Piala Pariwisata) diterima Albar. Berikutnya pemenang Catur juara 1 Kapolres Wakatobi, juara 2 Briptu Aprilani, juara 3 Rusli. Pemenang Bilyard juara 1 Unit P3D, juara 2 Satuan Samapta, juara 3 Kapolres Wakatobi.
Dalam kesempatan itu Ketua Panitia HUT Bhayangkara ke-64, Samin, dalam kegiatan yang bertemakan “Membangun Karakter melalui Kemampuan yang Unggul, Kemitraan Profesional dan Etika Prima” pada Kamis (01/07/2010) lalu itu menyampaikan bahwa, seluruh Fungsi Polres Wakatobi yang ada berusaha dengan sebaik mungkin agar setiap kegitan yang ada di dalam masyarakat selalu diupayakan pelayanan secara maksimal, sehingga terjalin rasa aman di masyarakat. “Bhakti kesehatan, yakni pelayanan kesehatan massal telah dilakukan di Desa Pada Raya, sejumlah perlombaan, anjang sana di Kelurahan Wandoka dengan pemberian tali asih kepada lansia,” imbuhnya.
Dalam sambutannya Kapolres Wakatobi mengatakan bahwasannya, pihaknya selalu mencoba memberikan manfaat positif pada masyarakat pada tahun ini maupun tahun-tahun yang akan datang dengan dan akan melakukan berbagai macam kegiatan, baik kegiatan olah raga dan lainnya, dengan mengembangkan ADR pemberdayaan kearifan lokal, meminimalisir anggaran penyidikan, 600-1000 kasus, penerapan alternatif deskrif resolusian dengan melibatkan tokoh kalau ada kasus-kasus sosial.
“Kalau kasus pembunuhan, dalam penyelesaianya tidak boleh diselesaikan secara sepihak, juga narkoba dan kasus besar lainnya. Camat bisa sinergikan dengan Kapolsek. Tidak harus buru-buru laporkan pada Polisi, tokoh dalam masyarakat bisa miliki peranan dalam menangani kasus di masyarakat. Mari kita bersama-sama untuk mengontrol dalam mencarai solusi terbaik di masyarakat. Karena kalau sekedar mengambil jagung, ya tentunya tidak harus dipenjarahkan. Bisa diselesaikan dengan yang saya maksud tadi, tapi kalau tidak diselesaikan maka proses hukum tetap akan berjalan,” harapannya kepada Masyarakat Waktobi dan sekitarnya.(Anto)

Polres Diminta Tuntaskan Perjudian di Wakatobi
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Perjudian di Wakatobi khususnya di Kecamatan Tomia berjalan dengan baik selama ini, dan ketika terjadi pembunuhan sadis barulah terungkap. Diindikasikan telah melibatkan oknum kepolisian sebagai pem-back up. Dengan demikian, masyarakat berharap Polres dapat menuntaskan perjudian yang ada. Begitu juga dengan perjudian sabung ayam di Tomia.
“Kami dari masyarakat sangat mengharapkan kepada pihak kepolisian untuk melakukan tindakan tegas sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Karena kalau dibiarkan begitu saja, maka akan berdampak buruk pada generasi muda,” ujar Jumiadin salah satu Pemuda Kecamatan Tomia belum lama ini.
Ia mengatakan pihak kepolisian sudah saatnya untuk memberantas perjudian, entah itu judi sabung ayam ataupun bentuk perjudian lainnya. “Selain untuk keamanan di masyarakat, pemberantasan judi besar ini juga demi citra nama baik Polres Wakatobi. Karena ditahunya oleh masyarakat se Sulawesi Tenggara ini bahwa ada kasus perjudian di Wakatobi, tentunya hal ini juga dapat merusak citra kepolisian,” ujarnya
Menurutnya, kalau kasus pembunuhan itu tidak terjadi, sampai sekarang perjudian besar itu juga akan tetap ada. Sementara, kasus perjudian sangat dilarang dan sudah pernah diinstruksikan oleh Kapolri untuk diberantas tanpa ada toleransi. Dia berharap, di Wakatobi tidak ada lagi kasus seperti perjudian.
Untuk itu sebagai masyarakat ia berharap, dengan kejadian pembunuhan di Kecamatan Tomia Timur beberapa waktu lalu, merupakan kejadian yang pertama dan yang terakhir. Namun, menurutnya meskipun masyarakat menyadari sendiri akan bahaya daripada perjudian, tetapi peran kepolisian juga sangat menentukan. “Karena kalau kepolisian memberikan sangsi tegas kepada pelaku sesuai dengan hukum yang berlaku, pasti masyarakat juga akan takut melakukan perjudian,” imbuhnya.
Kapolres Wakatobi, AKBP Pitra A. Ratulangi S.Ik, ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya beberapa hari lalu perihal tersebut menegaskan bahwa, Polres Wakatobi tetap menindak tegas sesuai prosedur kepada setiap warga yang melanggar hukum termasuk jika tertangkap melakukan perjudian, maka akan ditindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku. “Kasus apa saja yang dilakukan masyarakat , jika ada yang tertangkap maka kepolisian dalam hal ini Polres Wakatobi akan menindak tegas sesuai protap,” ujar Kapolres yang akrab dengan kuli tinta ini.
Terkait dengan indikasi terlibatnya oknum kepolisian sebagai pem-back up dalam perjudian ayam di Tomia, Kapolres Wakatobi mengatakan sebagai Kapolres ia tidak tahu menahu tentang hal itu. Dan kalau ada oknum Anggota Kepolisian yang ditahu masyarakat terlibat seperti terima suap, maka diharapkan masyarakat dapat segera melapor ke Polres Wakatobi. “Kita akan tindak tegas Anggota Polisi itu. Terkait perjudian di wilayah hukum Tomia, itu tanggungjawab Polsek Tomia. Seharusnya Kapolsek Tomia lebih tanggap dalam masalah ini,” tegasnya.
Dikatakannya, kasus perjudian di Kecamatan Tomia Timur belakangan ini telah memakan korban nyawa, Polres Wakatobi menyerahkannya ke setiap Polsek masing-masing kecamatan untuk penangannya. Karena, menurut Kapolres Wakatobi, aturan tetap sama seperti yang diterapkan di Polres Wakatobi. Apalagi di Polsek yang paling tahu tentang kondisi wilayahnya. Termasuk Polsek Kecamatan Tomia maupun Tomia Timur. “Yang jelasnya, pihak Polres Wakatobi akan menindak tegas setiap warga yang melakukan pelanggaran, termasuk jika ada yang tertangkap melakukan perjudian apapun. Polres Wakatobi tidak akan memberikan toleransi jika ada masyarakat yang meskipun sudah diingatkan, namun masih saja melakukan perbuatan yang jelas-jelas melanggar hukum dan perundang-undangan,” tegasnya. (Anto)

Iuran Listrik Desa Kolo Dibayar Sukarela
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Mesin genset bantuan Pemda untuk warga Desa Wisata Kolo dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat, mulai dari pemeliharaan mesin dan perangkatnya sampai urusan menyalakan lampu ditanggung swadaya. Makanya, untuk mendukung umur mesin itu, warga setempat sepakat membayar iuran listrik setiap bulannya atas dasar suka rela, tanpa paksaan dari pihak mana pun.
Kepala Desa Wisata Kolo, Masruddin, Kamis (01/07/2010) lalu kepada media ini mengatakan bahwa, kehadiran mesin genset di desa yang dipimpinnya itu sangat berarti sekali dalam kehidupan mereka setempat. Mengingat selama ini Desa Kolo sangat minim dari sentuhan pembangunan, giliran ada perhatian Pemda Wakatobi, persoalan vital dalam kehidupan mereka yang menjadi sasaran utama, termasuk kebutuhan akan penerangan listrik. “Listrik sudah lama dinantikan dan kehadirannya sangat bermanfaat di desa kami,” imbuhnya.
Mesin yang diberikan itu dikelola secara swadaya. Alasannya, Pemda hanya memberikan mesin dan kabel inti saja, mengenai operasionalnya dikelola secara mandiri oleh warga Desa Kolo. Itu pun dilakukan setelah sebelumnya dilakukan musyawarah terlebih dahulu antar masyarakat yang ada di Desa Wisata Kolo.
Lebih lanjut Masruddin menjelaskan, dalam rapat itu point penting yang disepakati mengenai iuran listrik setiap bulannya. Dalam musyawarah, disepakati iuran yang harus dibayar warga yang menikmati penerangan itu Rp. 25 ribu per bulan. Tapi nilai itu bukan keharusan, warga tidak dipaksakan membayar, mereka membayar sesuai kemampuan saja.
“Jika satu rumah hanya mampu membayar Rp 5 ribu setiap bulan, maka seperti itulah nilai yang harus dibayar. Tergantung kemampuan dan kerelaan. Bahkan, bagi warga yang sudah tidak dibebankan Raskin, sama sekali tidak dibebankan iuran listrik walaupun satu rupiah, karena mereka benar-benar tidak mampu dan sudah uzur,” ucapnya, sembari menambahkan, mengenai iuran ini warganya benar-benar telah memiliki kesadaran tinggi. Karena keberadaan mesin pembangkit listrik di desa itu sangat disadari oleh mereka bahwa alat itu milik bersama, apalagi keberadaannya sangat vital bagi kehidupan warga Kolo. “Kelestarian mesin itu sangat diperhatikan oleh setiap warga Kolo,” pungkasnya (Anto)

Piala Karate-Do Wakatobi Diserahkan pada Hari Puncak Dirgahayu Bhayangkara
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Sebanyak 143 peserta Karate-Do Wakatobi yang ikut berlaga sejak Selasa (29/06/2010) hingga Rabu (30/06/2010) lalu telah berakhir. Secara resmi hari itu juga dilakukan acara penutupan oleh Kapolres yang diwakili Wakapolres Wakatobi, Kompol Sigit Widagdo, SIK. Disampaikannya bahwasannya Piala Karate-Do Wakatobi akan diserahkan kepada pemenang pada hari puncak Dirgahayu Bhayangkara.
Wakapolres yang baru pertama kalinya melakukan tatap muka di khalayak Wakatobi, sebelum menutup acara mengatakan sempat memberikan motivasi kepada peserta Karate-Do. Ia menyampaikan dukungannya secara lembaga kepada Guru Karate dan ungkapan partisipasi semua pihak dalam kegiatan. “Kepada yang berhasil meraih prestasi agar dapat terus meningkatkan prestasi, agar bisa meraih prestasi lebih tinggi lagi. Karena, masih ada kejuaran di tingkat Provinsi dan tingkat Nasional. Begitu juga kepada yang belum berhasil, agar dapat meningkatkan kemampuan dengan cara jangan malas untuk berlatih terus. Belum sempat meraih juara, itu merupakan sukses yang tertunda,” saranya.
Selain Wakapolres hadir juga Ketua Inkanas Wakatobi, Muh Ali, SP, Kepala Dinas Pendidikan Nasional, Pemuda dan Olahraga (Diknaspora) Kabupaten Wakatobi, Drs. H. Masiuddin, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten Wakatobi, Drs.H. Hasirun Ady, M.Si.
Kadis Diknaspora Kabupaten Wakatobi yang ditemui pada kesempatan itu menyampaikan dukungan sebesar-besarnya atas terlaksananya kegiatan tersebut, termasuk dukungan menjadikan even kejuaran karate masuk kalender tahunan. Perlu ada dukungan itu juga, menurutnya karena olahraga karate merupakan salah satu olehraga yang mampu membentuk karakter keperibadian pemuda yang disiplin.
“Di Wakatobi ada banyak olahraga yang dikembangkan, tinggal pemuda itu sendiri memilihnya, kalau di tingkat sekolah olahraga merupakan bagian dari ekstra kulikuler. Dukungan kita juga cukup besar, kalau tidak ada halangan tanggal 2 besok ini saya akan ke Jakarta, akan menjemput bantuan untuk pembangunan sarana fisik olahraga. Sarana itu berupa gedung olahraga termasuk asrama olahraga dan lainnya. Dana untuk sarana itu sekitar dua milyar (Rp. 2 M) lebih,” ujarnya.
Kadis Budpar, Hasirun Ady pada kesempatan itu juga memberikan komentar dukungan terhadap olah raga karate-do yang dikembangkan di Kabupaten Wakatobi. Menurutnya, kedepan kalau Wakatobi dipercaya menjadi tuan rumah kejuaraan karate-do se Sultra. Tentunya akan membuat orang berdatangan di Wakatobi, dengan demikian maka sejumlah usaha seperti perhotelan, penginapan dan lainnya akan semakin maju.
“Kita dapat kalkulasikan kegiatan se Wakatobi saja pesertanya 143, kalau se Sultra ini tentunya akan lebih banyak. Saya kira, rencana pembangunan sarana olah raga dan pengembangan olah raga di berbagai cabang olah raga patut didukung. Karena pariwisata maju, tidak hanya melalui potensi yang sudah ada saja tapi melalui olah raga juga pengaruhnya cukup besar,” katanya.
Terakhir Ketua Forki dan Ketua Inkanas Wakatobi, Muh Ali, SP juga menyampaikan sebagai pihak yang mewakili Forki dan Inkanas Wakatobi, dirinya merasa bangga. Karena mendapat dukungan dari semua pihak, harapannya dukungan itu terus mengalir sehingga dapat mengukir berbagai prestasi pemuda Wakatobi saat ini dan masa yang akan datang.
“Dukungan semua pihak sangat berharga bagi pemuda-pemuda Wakatobi, kita harus yakin pemuda kita akan lebih unggul dari pada daerah lain. Terkhusus, kami meminta dukungan dari Kapolda Sultra dan Kapolres Wakatobi, untuk terus memberi bimbingan dan pembinaannya,” ujar Ketua Inkanas yang juga Ketua Fraksi PDI-P di DPRD Wakatobi itu.(Anto)

143 Peserta Karate Ikut Berlaga Merebut Piala Bupati dan Piala Kapolres
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Dalam rangka memeriahkan Dirgahayu Bhayangkara ke-64, sebanyak 143 peserta karate ikut berlaga untuk memperebutkan Piala Bupati Wakatobi dan Piala Kapolres Wakatobi. Kegiatan pertandingan itu berlangsung selama dua hari sampai hari ini Rabu (29/06/2010) lalu.
Pembukaan kegiatan Karate Open Tournament Institut Karate-Do Nasional (Inkanas) Kabupaten Wakatobi, dihadiri oleh Kapolres, Danramil, mewakili Bupati dari pihak Pemda dan Anggota DPRD Wakatobi, Muh. Ali, SP yang juga Ketua Forki dan Ketua Inkanas Wakatobi.
Dalam kesempatan itu, Kapolres sekaligus Pembina Forki dan Inkanas Wakatobi, AKBP Pitra Andreas Ratulangi, SIK menyampaikan, bahwasannya dengan adanya kegiatan seperti itu, diharapkan dapat meningkatkan prestasi generasi muda khususnya dalam bidang olah raga bela diri karate, sehingga pada pertandingan karate berikutnya semakin dapat diandalkan.
“Selain itu, insan karate yang dibina selama ini tidak hanya di bidang karate saja. Akan tetapi pembentukan pada kepribadian menjadi petualang, dengan demikian mereka bisa mencintai lingkungan. Ketika melihat siapa saja membuang sampah sembarangan atau melakukan perusak lingkungan mereka bisa ikut mencegah. Minimal mereka yang dididik ini menjadi orang yang tidak melakukan perusak lingkungan,” ujarnya.
Ketua Forki dan Ketua Inkanas Wakatobi, Muh Ali, SP usai kegiatan mengatakan Kejuaraan Karate di Wakatobi sudah ditetapkan selama setahun dua kali yaitu pada perayaan Dirgahayu Bhayangkara dan HUT Wakatobi. Dengan demikian, tentunya akan meningkatkan bakat karena selain terlatih juga berlatih dalam menghadapi lawan. Pihaknya juga akan menjadikan atlit karate di Wakatobi memiliki warna tersendiri. “Dengan demikian akan bermunculan bibit-bibit terbaik di setiap klub latihan karate. Sehingga pada suatu saat nanti yang akan ikut dalam moment yang lebih tinggi, apakah itu momen tingkat Provinsi atau Nasional dapat meraih prestasi. Kami sangat berharap, dukungan dari semua pihak agar cita-cita kita bersama untuk memajukan olah raga karate di Wakatobi dapat tercapai sesuai keinginan kita,” ujarnya.(Anto)

Murid SD di Tomia Lulus 100 Persen
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Murid Kelas VI Sekolah Dasar (SD) se-Kecamatan Tomia yang beberapa hari lalu telah melaksanakan pengumuman hasil ujian akhir tahun pelajaran 2009/2010, meskipun secara resmi setiap sekolah belum melaporkan hasil-hasil yang dicapai dalam setiap mata bidang studi, namun dari informasi setiap sekolah, kelulusan mencapai 100 persen. Demikian dikatakan Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kecamatan Tomia, Abdul Rasyid Am.Pd. kepada media ini Senin (28/06/2010) lalu.
Dikatakannya, seperti tahun-tahun sebelumnya bahwa setelah semua sekolah melaksanakan pengumuman hasil ujian akhir, maka setiap sekolah diwajibkan untuk melaporkan hasil pengumuman yang disertai dengan nilai yang dicapai murid setiap bidang studi kepada kantor UPTD, sehingga UPTD dapat melihat secara umum hasil-hasil yang dicapai murid dalam setiap bidang studinya.
Disamping itu juga, agar pihak UPTD bisa melakukan perengkingan pada setiap sekolah sebagai barometer atas keberhasilan guru-guru di setiap sekolah dalam memoles muridnya. “Ketika mereka (murid, red) melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah memiliki dasar-dasar ilmu yang diberikan guru-guru sejak masih duduk di bangku sekolah dasar,” ujar Abdul Rasyid.
Ditambahkannya, dengan dilaporkannya hasil yang dicapai murid kelas VI selama mengenyam pendidikan dibangku SD, maka bagi sekolah yang mendapat nilai tertinggi dan mendapat nilai terendah, akan dijadikan sebagai bahan evaluasi kedepan. “Diharapkan kualitas guru bagi sekolah yang mendapatkan nilai terendah dapat lebih ditingkatkan lagi pada tahun-tahun mendatang,” harapnya. (Anto)

Kecamatan Togo Binongko Telah Bentuk Panitia HUT RI Ke-65
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Panitia Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-65 khususnya di Kecamatan Togo Binongko Kabupaten Wakatobi jauh sebelumnya telah selesai dibentuk kepanitiaannya. Pembentukan Panitia HUT RI ke-65 lebih awal mengingat masyarakat setempat juga akan menyambut moment besar, yakni Ibadah Puasa yang pada tahun ini bertepatan dengan Perayaan HUT RI Ke 65.
Hal ini disampaikan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Togo Binongko, Mujaidi S.Pd kepada Wartawan Wakatobi News Group Buton Raya News, Sufrianto, ketika ditemui Minggu (27/06/2010) lalu.
Lebih lanjut Mujaidi menjelaskan, alasan pihaknya lebih awal membentuk susunan kepantiaan HUT RI ke-65, tujuannya agar tidak mengganggu jalannya Ibadah Puasa. “Meskipun puncak peringatan HUT RI-65 masih cukup lama, namun semangat masyarakat kami yang ada di kecamatan terujung di bagian timur Kabuapten Wakatobi itu sudah terlihat sangat antusias. Hal ini dibuktikan dengan sudah terbentuknya panitia pelaksana peringatan HUT RI Ke 65 sejak beberapa hari lalu,” ucapnya bangga.
Dikatakannya, Camat Togo Binongko, Muhammad Djafar SE dalam rapat yang dihadiri seluruh staf Kantor Camat dan PNS yang tersebar di seluruh unit kerja serta Tokoh Masyarakat dilakukan melalui musyawarah dan mufakat. Dengan menunjuk dirinya (Mujaidi S.Pd) sebagai Ketua Umum Panitia Pelaksana Kegiatan, Sekretaris Panitia, Arifin S, Ketua Seksi Lomba, Abdul Majid S.Pd.
“Seperti diketahui bersama, bahwa awal bulan Ramadhan diperkirakan minggu pertama Agustus 2010, sehingga berdasarkan keputusan rapat masyarakat, perayaan HUT RI 65 yang menurut rencana akan diisi dengan berbagai lomba seni dan pertandingan olah raga, akan dilangsungkan sebelum memasuki bulan puasa,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Seksi Perlombaan Terpilih, Abdul Majid S.Pd mengatakan, perayaan HUT RI ke-65 di Kecamatan Togo Binongko, akan dilakukan dengan berbagai perlombaan diantaranya sepak bola, volly ball, sepak takraw dan atletik akan dilaksanakan siang hari.. “Untuk lomba seni seperti tarian daerah, kasida rebana, vokal group, MTQ dan lomba dangdut akan digelar pada malam hari,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan yang akan diikuti mulai dari tingkatan SD hingga umum tersebut, diharapkan dapat menciptakan bibit berprestasi yang nantinya bisa mewakili Kecamatan Togo Binongko pada event yang lebih tinggi lagi. Dan yang paling utama yaitu, untuk merayakan HUT RI-65 atas jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur di medan perang dalam memperjuangkan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Selain itu juga, masih kata Abdul Majid, dalam perlombaan nanti pihaknya akan mencoba untuk mengakomodir ibu-ibu dasa wisma, dengan mengadakan pertandingan bola gotong royong dan jalan sehat. “Menurut rencana, semua jenis pertandingan dan perlombaan akan dimulai pada akhir bulan Juli dan berakhir awal Agustus 2010 mendatang,” katanya.(Anto)
Drs Priyono: “Tanah Bersertifikat Harus Bebas Sengketa”
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Terkait aksi ratusan masyarakat dari Desa Wapiapia Kecamatan Wangiwangi yang berjaga-jaga di sepanjang jalan arah menuju Desa Sombu ke Desa Wapiapia Kecamatan Wangiwangi beberapa hari lalu, dimana dalam aksi berjaga-jaga tersebut, masyarakat yang terdiri dari satu kelompok garis keluarga yang merasa memiliki lokasi yang akan disurvei untuk dijadikan lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan BTN oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Wakatobi, dibantah Kepala Kantor Pertanahan Nasional Kabupaten Wakatobi, Drs Priyono, ketika ditemui diruang kerjanya beberapa hari lalu.
Dikatakannya, pernyataan salah seorang warga yang mewakili masyarakat pemilik lokasi yang mengatakan bahwa lokasi (tanah,red) milik keluarganya yang akan dijadikan lokasi PLTU dan BTN oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Wakatobi tersebut kurang akurat. Karena, menurut dia, Kantor Pertanahan Kabupaten Wakatobi tidak mempunyai program kerja tahun 2010 ini untuk mendirikan PLTU dan BTN di lokasi yang dimaksudkan itu. Dan itu bukan wilayah kerja Kantor Pertanahan. Namun, kalau untuk mendirikan PLTU dan BTN tersebut, ada instansi terkait yang menanganinya. “Kantor Pertanahan hanya memberikan legalitas atas kepemilikan tanah secara hukum bila si pemilik lokasi meminta untuk diuruskan sertifikat sesuai dengan asal-usul kepemilikan lokasi tersebut ” urainya.
Lebih lanjut, pria yang tampil sederhana itu menjelaskan, kehadiran tim pengukur tanah dari Kantor Pertanahan Kabupaten Wakatobi di lokasi yang dianggap bermasalah tersebut, hanya sebatas menindaklanjuti berkas-berkas usulan untuk mendapatkan sertifikat yang diajukan oleh, Ir Alfi, salah seorang warga Kelurahan Mandati Kecamatan Wangiwangi Selatan. “Yang mana, dalam berkasnya tertera memiliki lokasi seluas 8 hektar di lokasi yang dimaksud itu, dan secara formal, berkasnya itu telah memenuhi syarat dan layak ditinjau untuk mendapatkan sertifikat,” tegasnya.
Namun, masih kata Priyono, setelah tim pengukur tanah tiba di lapangan ternyata ada permasalahan diantara kerabat dan keluarga dekatnya yang merasa memiliki hak atas kepemilikan tanah yang disengketakan tersebut. Untuk itu, dari Kantor Pertanahan Kabupaten Wakatobi menyarankan kepada pemohon (Ir Alfi, red) untuk mendapatkan sertifikat tersebut, agar terlebih dahulu menyelesaikan permasalahan itu di tingkat keluarganya. Karena, tanah yang masih termasuk sengketa secara hukum belum bisa diterbitkan sertifikat.
Ia pun mengimbau, “kepada masyarakat yang merasa memiliki lokasi dimaksud, agar jangan cepat percaya dengan informasi yang belum tentu benar itu,” harapnya. Menurutnya, Kantor Pertanahan Kabupaten Wakatobi, hanya menerbitkan setifikat kepemilikan tanah yang sudah memiliki bukti-bukti kuat bahwa lokasi (tanah, red) tersebut, baik secara lisan maupun tertulis tidak dalam sengketa. “Sertifikat kepemilikan tanah itu terbit, terkecuali lokasi (tanah, red) benar-benar mempunyai bukti hukum yang kuat bahwa lokasi itu adalah hak miliknya”, tegas Priyono. (Anto)

Keluarga Terlapor yang Diduga Mencuri Batang Kelapa Akan Memprapradilankan Polres Wakatobi
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Lotong dan Rusli sebagai pihak terlapor pencurian batang kelapa akan memprapradilankan Polres Wakatobi. Sikap itu akan ditempuh pihaknya karena terkait kasus dipenjaranya dua orang terlapor yakni La Onde dan La Irhamna asal Kelurahan Waetuno yang dilaporkan oleh La Murhum ke Polres Wakatobi, dengan tuduhan diduga telah mencuri pohon kelapa miliknya sementara tuduhan itu tidak mendasar sama sekali.
Keluarga terlapor yang ditemui dikediamannya di Waetuno Kamis (24/06/2010) lalu menyampaikan, bahwa pihaknya sangat kecewa atas tidak prosuduralnya penangkapan yang dilakukan oleh pihak penyidik dari Polres Wakatobi. Dimana penangkapan yang dilakukan itu tanpa mengantongi Surat Perintah Penangkapan dan Surat Penahanan terhadap Terlapor yang belum tentu bersalah.
Selain proses penangkapan dan penahanan terlapor tidak prosudural, pihak keluarga korban juga telah menganggap pihak Penyidik Polres Wakatobi, yakni Brigadir Yahya Sonda S juga dalam bekerja sangat tidak professional. Dan terkesan sudah dimanfaatkan oleh si Pelapor dengan dugaan telah menerima sejumlah imbalan dari si Pelapor.
“Kami katakan bahwa ini tidak prosudural dan tidak profesional, karena selain tidak melalui prosudur penangkapan dengan tidak adanya surat perintah penangkapan dan surat penahanan. Kasus ini juga terjadi sudah cukup lama, yaitu pada tanggal 23 November 2009 lalu. Kenapa sekarang baru diungkit lagi, sementara tindakan yang dilakukan penyidik sangat brutal. Seolah-olah hukum itu masih memakai hukum rimba,” ujarnya sembari menunjukan bukti surat kasus.
Tertuang dalam surat pemberitahuan itu yakni pertama pasal 7 ayat (1) huruf g pasal II, pasal 112 ayat (1) dan pasal 113 KUHP. Kedua UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI. Ketiga berdasarkan Laporan Polisi No. POL: LP/156/XI/2009 SPK Res tanggal 23 November 2009. “Kita kecewa sekali, bagaimana tidak keluarga kami dua orang terlapor pada hari Senin (21/06/2010) lalu pergi ke Polres untuk memenuhi panggilan penyidik berdasarkan surat No.POL:SP.GIL/139/VI/2010/Reskrim Res. Tiba-tiba, dua hari kemudian Terlapor sudah di Bau-Bau dan telah ditahan. Inikan sama saja dengan penculikan pak,” ujarnya sembari meneteskan air matanya.
Terkait dengan tuduhan Pelapor, menurut pihak keluarga Terlapor, bahwa pohon kelapa yang dibuat untuk bahan bangunan rumah itu memang benar-benar milik Terlapor. Hal itu dibuktikan dengan sertifikat kepemilikan tanah. Sebagai bukti lainnya adalah dari Saksi-saksi yang juga Tokoh Masyarakat setempat.
“Berdasarkan bukti kepemilikan yang ada ini kami sudah pernah melakukan klarifikasi kepada penyidik. Saksi-saksi yang menyatakan kelapa itu milik Terlapor bukan hanya Tokoh Masyarakat saja, tapi orang sekampung Waetuno Raya itu juga tahu. Dan kami juga telah pertanyakan bukti apa saja, yang memperkuat kalau kelapa itu milik Pelapor. Tapi, kenyataanya Pelapor tidak bisa menunjukan bukti itu. Kenyataannya juga, Penyidik dari Polres Wakatobi, yakni Bapak Brigadir Yahya Sonda S tetap saja ngotot menjadikan Terlapor sebagai Tersangka. Ada apa dengan hal ini, kami yakin pasti mereka (diduga, Red) sudah suap Penyidik,” ungkapnya panjang lebar.
Dugaan terjadinya main mata antara Pelapor dengan Penyidik Polres Wakatobi, karena selama proses kasus dan bahkan sampai penangkapan Terlapor pihak penyidik selalu menggunakan kendaraan pribadi (Mobil Pribadi) dan Sepeda Motor si Pelapor. “Bahkan penangkapan Terlapor dilakukan juga dengan menggunakan kendaraan berupa Mobil Pelapor,” celetusnya.
Kapolres Wakatobi, AKBP Pitra Andreas Ratulangi, SIK yang dikonfirmasikan di Mapolres Wakatobi Kamis (24/06/2010) lalu sedang tidak berada di kantor. Salah satu Anggota Polres Wakatobi yang ditanya soal keberadaan Kapolres, ia mengatakan bahwasannya Kapolres sedang keluar kantor.(Anto)

Perpusda PDE dan Arsip Wakatobi Kerjasama Sosialisasi UU Perpustakaan
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Kepala Kantor Perpustakaan Daerah, Pengelolah Data Elektronik (PDE) dan Arsip Kabupaten Wakatobi, La Mego R, SE menggandengkan lembaga lain untuk sosialisasi UU Perpustakaan kepada pihak peserta kegiatan. Kegiatan sosialisasi itu berlangsung di Gedung Pertemuan SMP Negeri 1 Kota Wangi-Wangi, Kamis (24/06/2010) lalu.
Adapun lembaga yang dilibatkan dalam sosialisasi ini adalah Kepolisian Polres Wakatobi, PKK, LSM seperti Yayasan CTCF. Tujuan menggandengkan pihak tersebut, agar dapat memberikan arahan yang terkait dengan hal-hal yang disosialisasikan pada hari itu. Khusus materi yang disampaikan dari pihaknya, selain sosialisasi UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, ada juga materi Kepmenpan No. 132 Tahun 2003 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya, dan juga UU RI No. 4 Tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam.
Kegiatan yang dibuka Bupati Wakatobi, Ir. Hugua yang diwakili Kepala Kantor Perpustakaan Daerah, PDE dan Arsip Kabupaten Wakatobi, La Mego R, SE menegaskan, bahwa sebagai sasaran sosialisasi adalah memberikan penyadaran kepada peserta yang terdiri dari unsur Kepala Sekolah dan Pengelolah Perpustakaan Sekolah baik setingkat SD, SMP, SMA. Termasuk juga pihak SKPD yang memiliki perpustakaan seperti pihak Sekertariat Daerah, Sekertariat DPRD, BKD, Kesbangpol dan Linmas, Ibu PKK, Ibu Bhayangkara dan pihak masyarakat sendiri agar dapat memahami kandungan UU tersebut sekaligus dapat mengarahkan bagaimana cara pemanfaatan perpustakaan.
“Perpustakaan itu sangat penting, karena disitulah lumbungnya berbagai ilmu pengetahuan. Dengan membaca, maka dapat menambahkan pengetahuan kita sekaligus dapat mencerdaskan kita selaku pembaca itu sendiri. Maka dari itu saya harapkan semua masyarakat dari pihak manapun agar dapat memanfaatkan perpustakaan yang ada. Terutama Perpusda yang sudah bisa dimanfaatkan, karena pelayanannya sudah dibuka,” harapnya.
Dalam sosialisasi yang bertemakan “Melalui Sosialisasi UU Perpustakaan Kita Jadikan Perpustakaan sebagai Jendela Dunia Menuju Surga Nyata Bawah Laut” Kepala Kantor Perpusda Kabupaten Wakatobi juga sempat mengimbau agar Masyarakat Wakatobi dapat bergabung menjadi Anggota Perpusda. Karena menurut La Mego, kalau Perpusda Wakatobi tidak dimanfaatkan dengan maksimal, maka koleksi buku di Perpusda Wakatobi sebanyak 8.000 yang mana nantinya Tahun 2010 ini juga akan ditambahkan sehingga menjadi 13.000 koleksi akan sia-sia. “Kalau Perpusda Wakatobi ini tidak dimanfaatkan oleh masyarakat, sudah barang tentu masyarakat itu sendiri yang akan rugi,” imbuhnya.(Anto)

Kinerja Aparat Polres Wakatobi Disoroti
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Kinerja aparat Polres Wakatobi dalam menangani kasus kriminal, kembali menuai sorotan dari masyarakat, terkhusus dari korban yang mengalami pemukulan dan telah melaporkannya langsung ke Polres Wakatobi. Dalam menjalankan proses penyidikan dinilai lamban dan terkesan mengabaikan laporan korban. Hal ini diungkap oleh Korban Pemukulan di Pantai Longa Kecamatan Wangi-Wangi, Ali kepada Wartawan Wakatobi News Group Buton Raya News, Rabu (23/06/2010) lalu.
Dikatakannya, Kronologis kejadiaan yang dialaminya itu terjadi pada Minggu (23/06/2010) lalu, kita ia berada di Pantai Longa Kecamatan Wangi-Wangi, saat itu ia sedang bersantai-santai bersama teman-temannya. Dengan alasan yang kurang jelas, tiba-tiba dia dipukul (keroyok) oleh Tersangka yang berinisial Mwh dan Jdn, sehingga menyebabkan muka korban bagian bawah wajah jadi bengkak dan berwarna biru.
Dan korban sempat minta visum dari dokter setempat. Atas kejadian itu, korban sangat tidak terima atas perlakuan brutal pihak anggota dan akhirnya Senin (24/05/2010) lalu, korban langsung melaporkan kejadian itu kepada Polres Wakatobi. Namun hingga saat ini, belum ada penyelesaian dari laporan atas kasus pemukulan itu. Bahkan, pelaku pemukulan tersebut masih berkeliaran bebas dan tidak pernah tersentuh dengan pemeriksaan sesuai dengan laporannya.
Menurutnya, Anggota Polres Wakatobi yang menangani kasus pemukulan atas dirinya tersebut, tidak konsisten terhadap penyelesaian kasus dan terkesan mengabaikan laporannya. Ia berharap kepada pihak terkait agar tetap memperhatikan hukum. Karena baginya, sebagai masyarakat biasa ia juga butuh perlindungan hukum yang sesuai dengan cita-cita negara bukan sebaliknya.
Ditambahkannya, dengan sikap aparat Polres Wakatobi yang menangani kasusnya tersebut sampai saat ini tidak menindaklanjuti laporannya, akan semakin menimbulkan rasa ketidakpercayaan pihak keluarganya dan pihak masyarakat terhadap kinerja kepolisian yang lamban menangani setiap kasus yang dilaporkan masyarakat. “Kalau laporan saya tidak ditindaklanjuti, akan saya lapor ke Polda Sultra bahwa penanganan kasus di Polres Wakatobi tidak konsisten dan terkesan mengabaikan laporan masyarakat,” tegas Ali dengan nada kecewa.
Sementara itu, ketika wartawan media ini hendak mengkonfirmasi Polres Wakatobi Kamis (24/06/2010) lalu perihal kejadian tersebut, Kapolres Wakatobi sedang tidak berada di kantor. Sementara itu juga Kasat Reserse juga tidak berada di Kantor. Menurut Anggota Reserse yang saat itu enggan menyebut namanya, bahwa Kasat Reserse masih di luar.(Anto)

Wartawan Wakatobi Bentuk Forum Wartawan Daerah
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Dalam menjalankan tugas peliputan di lapangan wartawan masih sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari oknum-oknum yang merasa kepentingan pribadinya terganggu atas pemberitaan yang ditulis wartawan. Dan sebagai karyawan atau buruh yang bekerja pada penerbitan atau lembaga penyiaran, wartawan juga kadang mendapatkan upah yang tidak wajar dari institusi tempatnya bekerja.
Padahal, wartawan memiliki peran penting dalam menciptakan keseimbangan demokrasi sebagai pilar demokrasi yang keempat setelah legislatif, eksekutif dan yudikatif. “Jadilah wartawan menjadi tidak efektif menjalankan fungsi kotrolnya terhadap pelaksanaan pemerintahan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” demikian dituturkan Ketua Sementara Forum Wartawan Daerah (FORWARD) Wakatobi, Hariyanto SH pada musyawarah pembentukan lembaga tersebut di Aula STIKES IST BUTON Kampus II Wakatobi, Wangi-Wangi Minggu (30/05) lalu.
Dalam pertemuan yang yang dihadiri berbagai komunitas pekerja media seperti, Koresponden Harian Kriminal Poskita, Harian Radar Buton, Harian Media Sultra, Kendari Ekspres, Kendari Pos, Wakatobi Pos, Kontributor, Buton Raya News, Wakatobi TV, Radio Ngkalo News FM, Radio Sikma FM, Radio Bensol FM memutuskan membentuk lembaga persatuan wartawan yang bertugas di wilayah Wakatobi dengan nama FORWARD WAKATOBI yang bersifat independen.
Formatur FORWARD WAKATOBI, Hariyanto SH, disela-sela rapat tersebut mengungkapkan, urgensi dibentuknya lembaga tersebut juga dalam rangka membangun kemitraan dengan berbagai stakeholder di wilayah Wakatobi, sebagai wadah untuk membangun partisipasi publik, dan memperjuangkan kesejahteraan wartawan. “Yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai wadah silahturahmi para pekerja media yang ada di Wakatobi,” ujarnya.
Disisi lain, masih kata Hariyanto SH, adanya FORWARD ini akan memudahkan Pemda Wakatobi utuk mendeteksi siapa-siapa wartawan yang ada di daerah. Artinya, ketika ada wartawan gadungan akan cepat ketahuan. Kedepan wartawan yang tergabung dalam FORWARD Wakatobi akan dibekali kartu anggota. Kalau tidak ada kartu, itu artinya, bukan wartawan yang melaksanakan tugas peliputan di Wakatobi.(Anto)

Warga Minta Pospol Difungsikan Maksimal
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Untuk meningkatakan keamanan di tingkat masyarakat Desa/Kelurahan sebagaimana dilansir media ini sebelumnya bahwa sudah ada Pospol yang ditempatkan dihampir setiap Desa/Kelurahan yang ada di Kabupaten Wakatobi. Namun, hampir semua Pospol yang ada belum difungsikan dengan baik. “Pospol yang ada hanya namanya saja alias tidak disertakan dengan aparat kepolisian,” tegas salah satu warga Wakatobi, yang mengaku namanya La Eri ketika ditemui di depan Kantor Sekertariat Daerah Wakatobi, belum lama ini.
Dengan tidak difungikannya Pospol yang ada, dikhawatirkan tindakan kriminal di masing-masing Desa/Kelurahan yang ada di Kabupaten Wakatobi tidak tertangani dengan baik. Seperti halnya kejadian tindakan kriminal di beberapa Kecamatan belakangan ini.
Oleh sebab itu, warga meminta pihak Polres dapat memperhatikan hal itu dengan serius. Permintaan masyarakat ini menurutnya sangat beralasan, disamping sudah ada penempatan kantor Pospol dari Polres Wakatobi, warga masyarakat juga sangat membutuhkan rasa aman di lingkungan dimanapun tempat tinggalnya. Karena, dengan adanya aparat seperti aparat kepolisian dilingkungannya, setidaknya dapat meredamkan permasalahan-permasalahan di masyarakat dengan cepat.
“Perhatikan saja selama ini, banyak permasalahan-permasalahan yang mengancam keamanan di tingkat masyarakat bawah, tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan baik. Kalau masalah itu cepat diredamkan oleh pihak keamanan pasti tidak sampai pada masalah besar. Jangan baru ada masalah besar, pihak kepolisian barulah turun menanganinya. Seperti halnya, yang terjadi di Kecamatan Tomia baru-baru ini, sebenarnya kalau Pospol difungsikan dengan baik, maka tidak akan terjadi sampai pada pembunuhan secara sadis seperti itu. Di lain hal, disana juga ada perjudian besar-besaran, hal ini menunjukan fungsi keamanan belum maksimal,” ujarnya.
Terkait belum dimanfaatkanya Pospol di Desa Patuno secara maksimal, sebelumnya dari warga Kelurahan Waetuno Raya juga pernah menyampaikan hal itu. Warga tersebut meminta agar Pospol yang sudah ada dapat difungsikan secara maksimal. Keluhan yang disampaikan warga itu, disampaikan kepada La Moane Sabara, S.Sos salah satu Anggota DPRD Wakatobi untuk diteruskan ke Kapolres Wakatobi.
Ia mengatakan Warga Waetuno, Patuno, Waelumu bahkan warga Desa Longa menyampaikan kepadanya agar memediasikan permintaanya untuk menyampaikan kepada Kapolres Wakatobi agar memfungsikan Pospol itu secara maksimal. Warga juga meminta agar Polisi yang ditempatkan di Pospol benar-benar berada di tempat.
Sebelumnya Kapolres Wakatobi, AKBP Pitra Andreas Ratulangi, SIK telah menyampaikan program penepatan Pospol merupakan rangkaian Program Keamanan Masyarakat. Dikatakan Kapolres juga, untuk jumlah total Pospol yang sudah ditetapkan adalah sebanyak sembilan unit Pospol tersebar di daerah Wakatobi.
Adapun Pospol yang sudah ditetapkan adalah Pospol Wisata di Pulau Hoga Kecamatan Kaledupa, Pospol KP3 Pelabuhan Laut Usuku di Kecamatan Tomia Timur, Pos Lalulintas di Kecamatan Tomia, Pospol KP3 Bandara Udara Moranggo Kecamatan Tomia.
Kemudian Pospol di Kecamatan Wangi-Wangi yaitu di Desa Patuno dan Pospol Desa Tindoi. Untuk di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan Pospol Desa Kapota dan Pospol Desa Liya Bahari dan Pos KP3 Bandar Udara (Bandara) di Bandara Matahora.
Sementara itu, Kapolres Wakatobi yang hendak dikonfirmasikan di kantornya sedang tidak berada di tempat. Menurut salah satu Anggota Polres yang ditemui Senin (14/06/2010) lalu, mengatakan bahwasannya Kapolres sedang berada luar daerah yaitu di Kendari.Anto)

Puluhan Peserta dari Berbagai Provinsi akan Mengikuti Airmodelling Wakatobi Visit 2009
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Kapolres Wakatobi, AKBP Pitra Andreas Ratulangi, SIK kepada Wartawan WaKaToBi News Group Buton Raya News belum lama ini mengatakan, bahwa dalam rangka mempromosikan Wisata Wakatobi sekaligus menyambut HUT Wakatobi 2009, maka akan diselenggarakan ivent nasional “Airmodelling Wakatobi Visit 2009” dalam bentuk Fulfly. “Peserta yang sudah mendaftar akan datang ke Waktobi hingga saat sudah sekitar 30-an orang yang berasal dari berbagai provinsi diantaranya DKI Jakarta, Jatim, Jateng, Jabar, Banten, Sumsel, Sulut, Sulteng dan Sultra,” ujarnya. Menurut Kapolres, ivent yang bertaraf nasional ini direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 18 – 20 Desember 2009 mendatang dengan menampilkan flypas dan antraksi akrobatik pesawat terbang dan helikopter yang sangat seru. “Khusus untuk peserta dari Sultra akan dibuka pendaftaran kelas pemula dalam rangka menarik minat putra putri asal Sultra,” ucapnya
Lebih lanjut Kapolres Wakatobi selaku Ketua Pantia Pelaksana menjelaskan, event ini berlokasi di Lapter Aeromodelling Polres Wakatobi di Wandoka, Lapangan Merdeka Wangi-Wangi dan Landasan Air di Patuno. “Event Aeromodelling ini sebagai salah satu akses terobosan membuka kawasan Wisata Wakatobi agar lebih dikenal publik, baik dalam negeri maupun luar negeri,” ungkapnya.
Lebih jauh dirinya menjelaskan, Event Aeromodelling yang baru pertama kali di Sultra sebagai pembuka jalan menjadi agenda tahunan yang direncanakan tahun depan akan diikuti dari peserta Manca Negara (minimal tingkat ASEAN). “Kepada masyarakat Wakatobi yang ingin menyaksikan dipersilahkan karena ini juga menjadi hiburan segar dan bergengsi bagi masyarakat Wakatobi yang bernuansa teknologi masa depan yang belum tentu ada di tempat lain, namun dihimbau untuk menjaga keamanan dan keselamatan masing-masing dengan menonton dari jarak yang aman (jangan dekat-dekat karena resiko akan terkena baling-baling pesawat dan helikopter),” harapnya. (BRn30)

Guna Ciptakan Rasa Aman dan Tetib Polres Wakatobi Bangun Lima Pospol
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Kapolres Wakatobi, AKBP Pitra Andreas Ratulangi, SIK kepada Wartawan WaKaToBi News Group Buton Raya News Sabtu (17/10/2009) lalu menegaskan, bahwa dalam rangka mendekatkan diri kepada masyarakat dan untuk memenuhi keinginan masyarakat Wakatobi yang semakin butuh rasa aman, maka Polres Wakatobi merespon Pembangunan Pos-Pos Polisi (POSPOL) di beberapa tempat strategis sebanyak 5 pos. “Hal ini sesuai dengan tuntutan perkembangan Kabupaten Wakatobi sebagai perimadonanya pariwisata dan sumber daya laut,” ucapnya.
Menurut Kapolres, dalam beberapa waktu kedepan Kabupaten Wakatobi akan semakin ramai dan berkembang di berbagai sektor kehidupan masyarakat dan pemerintah. Oleh karenanya, masih kata Kapolres, Polres Wakatobi melihat potensi ini dan mengantisipasinya dengan membentuk Pos-pos Polisi di beberapa lokasi yang dianggap sudah layak didirikan Pos-pos Polisi diantaranya di Kecamatan Wangi-Wangi dibentuk Pospol Patuno dan Pospol Tindoi. “Kecamatan Wangi-Wangi Selatan dibangun Pospol Kapota dan Pospol Lia Bahari, sedangkan di Bandara dibangun Pospol KP3 Bandara,” ujarnya.
Lebih lanjut Kapolres Wakatobi yang murah senyum ini menjelaskan, idealnya personil polisi berjumlah 16 orang yang dipimpin oleh seorang Inspektur Polisi Dua (IPDA). “Masih terbatasnya jumlah personil maka sementara ini kita isi 3 sampai 4 orang personil dalam satu Pos Polisi dan dilengkapi sarana sepeda motor dan alat komunikasi (alkom) UHF,” ungkapnya.
Dengan adanya pos-pos polisi ini, lanjut Kapolres, diharapkan Polisi semakin dekat dengan masyarakat sekalipun di desa yang jauh, dan masyarakat dapat terlayani dengan cepat jika ada masalah-masalah kamtibmas. “Kepada pos-pos ini diberikan kewenangan untuk menyelesaikan masalah-masalah kecil yang bernuansa sosial namun masih mempedomani kaidah-kaidah hukum demi terciptanya situasi kondusif dimana pos tersebut berada,” tegasnya.
Lebih jauh, dirinya mengungkapkan, kedepan tidak menutup kemungkinan akan ditambah lagi beberapa pos baru jika dianggap layak. “Para Polisi yang akan mengisi pos-pos tersebut sebelum ditugaskan diberikan pelatihan tentang Polmas dan perilaku Humanis, sehingga saat bertugas mereka betul-betul menjadi mitra masyarakat dan bersama-sama menciptakan rasa aman dan tertib guna menunjang pembangunan Kabupaten Wakatobi yang sedang berkembang pesat,” katanya.
Untuk itu, pihaknya mengajak kepada masyarakat dan pemerintah setempat untuk bersama-sama dengan Pospol yang baru dibentuk menciptakan keamanan bersama sehingga mampu menangkal ancaman dan gangguan yang muncul dari dalam masyarakat di desa tersebut maupun yang datang dari luar desa.(BRn30)

Warga Wandoka Berbondong-Bondong Tanam Pohon Mangrop
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Kamis (17/06/2010) lalu, warga Kelurahan Wandoka dengan antusiasnya berbondong-bondong ikut melakukan penanaman Pohon Mangrop di pesisir pantai. Jumlah pohon tersebut yakni sebanyak 500 pohon.
Semua tanaman yang ditanam tersebut berasal dari bantuan Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementrian Kelautan dan Perikanan pada TA 2010. Bibit Pohon Magrop yang dikenal banyak warga dengan sebutan pohon bakau itu mulai ditanam sejak pagi hari pukul 07.00 Wita sampai Pukul 10.00 Wita.
Demikian disampaikan Lurah Wandoka, Samsudin ketika ditemui disela-sela kesibukannya.
Menurut Lurah Wandoka yang baru menjabat di kelurahan tersebut, penanaman pohon bakau itu tidak hanya melibatkan kepala keluarga, ibu rumah tangga dan pemuda saja. Tetapi, penanaman pohon itu juga melibatkan murid SD Wandoka. “Penanaman Pohon Bakau yang kita lakukan secara bersama-sama ini, utamanya dilakukan penanaman di bagian pesisir Pantai Wandoka yang terkena abrasi. Ini dilakukan untuk mendukung program melestarikan lingkungan dari Direktorat Jenderat Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia,” ujarnya.
Lanjut Lurah itu, selain ditanamkan pohon magrop warga yang dipimpinnya juga dapat pembekalan dari pihak terkait tersebut terutama tentang bagaimana cara membudidayakan bibit pohon magrop. Diharapkan, masih kata lurah itu, dengan memiliki pengetahuan pembibitan Pohon Mangrop akan memudahkan langkah pengembang biakan pohon mangrop kedepan.
“Cukup banyak sekali manfaat daripada tumbuhan pohon magrop ini, seperti yang disampaikan dari pihak lembaga yang menyalurkan Pohon Magrop ini. Selain penahan gelombang, berfugsi juga sebagai tempat berlindung ikan-ikan kecil dan masih banyak lagi manfaatnya,” ujarnya.(Anto)

Tiga Orang Siswa Utusan Polres Wakatobi Ikut Peransaka
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Saka Bayangkara Polres Wakatobi ikut Perkemahan Bakti Antar Saka Nasional (Peransaka). Ututusan dari Polres Wakatobi sebanyak tiga orang yaitu satu putra dan satu orang putri Siswa SMA, serta satu orang pendamping yang berasal dari anggota Polres Wakatobi.
“Kegiatan Peransaka Tahun 2010 berlangsung di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau yang akan dilaksanakan Tanggal 11-23 Juli 2010,” ungkap Bripka Ahmad Rifai, pendamping utusan Saka Bayangkara Polres Wakatobi kepada Wartawan Wakatobi News Group Buton Raya News, Rabu (09/06/2010) lalu.
Ia mengatakan, dua orang siswa-siswi SMA yang mewakili Saka Bayangkara Polres Wakatobi tersebut yaitu, siswa SMKN Wangi-Wangi dan Siswa SMAN Wangi-Wangi.
“Adapun tujuan dari kegiatan ini sesuai dengan AD/ART gerakan Pramuka yaitu sebagai wadah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega khususnya anggota Satuan Karya Pramuka untuk menggalang persaudaraan. Juga untuk menambah pengalaman, pengetahuan, keterampilan, wawasan dan meningkatkan rasa patriotisme yang mengarah kepada pembinaan, ketahanan di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat,” urainya panjang lebar.
Kasubag Kerma Binamitra Polres Wakatobi ini menguraikan lebih lanjut, bahwa dalam kegiatan itu nantinya para peserta lebih fokus pada tugas pokok menyelenggarakan kepramukaan bagi kaum muda guna menumbuhkan tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik, yang sanggup, bertanggung jawab dan mampu membina serta mengisi kemerdekaan.
“Dengan mengikuti kegiatan ini, nantinya para peserta khususnya utusan Saka Bayangkara Polres Wakatobi diharapkan bisa membina dan mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) anggota Satuan Karya Pramuka agar menjadi kader pembangunan yang bermoral Pancasila khususnya dalam bidang kebayangkaraan, pelopor dan motivator penegakan hukum serta ketertiban masyarakat,” ujar Pamong Saka Bayangkara Polres Wakatobi tersebut.
Ditambahkannya, salah satu wadah pembinaan dalam gerakan pramuka adalah satuan karya pramuka (SAKA). Kegiatan-kegiatan SAKA tersebut dilaksanakan untuk menyalurkan minat, mengembangkan bakat dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan pengalaman bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega dalam berbagai bidang kejuruan, sekaligus pula sebagai upaya meningkatkan motivasi untuk melaksanakan kegiatan nyata dan produktif, sehingga dapat memberikan bekal bagi kehidupan dan penghidupannya di kemudian hari, serta bekal pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan Negara, sesuai dengan aspirasi dan tuntutan perkembangan jaman.
Keikutsertaan Saka Bayangkara Wakatobi dalam kegiatan ini merupakan amanat dari AD/ART Gerakan Pramuka, Keputuan Bersama Kapolri dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No.Pol:Kep/08/V/1980 dan Nomor 050 tahun 1980 tentang kerjasama dalam usaha pembinan dan pengembangan pendidikan kebayangkaraan dan kepramukaan. “Ini berdasarkan telegram Kapolda Sultra Nomor ST/1482/2010 tentang Permintaan Peserta Perkemahan Bakti Antar Satuan Karya (Peransaka) tahun 2010. Program kerja Kwartir Daerah Sulawesi Tenggara Tahun 2010. Program Kerja Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Wakatobi Tahun 2010 dan Program Kerja Satuan Karya Pramuka Bayangkara Kwartir Cabang Wakatobi tahun 2010,” ujarnya.(Anto)

Sambil Menunggu Ijasah Asli Siswa Lulus UAN Bisa Mendaftar
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Untuk mengantisipasi penerimaan siswa baru tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang sampai Sabtu (19/06/2010) lalu, sementara ijasah asli bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang telah dinyatakan lulus Ujian Akhir Nasional (UAN) beberapa minggu lalu belum ada. Maka, berbagai cara yang dilakukan pihak SMP untuk memudahkan Siswa/i-nya yang telah dinyatakan lulus UAN untuk bisa mendaftar di sekolah tingkat SMA/sederajat.
Kasek SMPN 1 Wangi-Wangi, Drs La Ode Yini Asri, ketika ditemui di ruang kerjanya baru-baru ini mengatakan, karena penerimaan siswa baru di tingkat SMA tinggal beberapa hari lagi. Sementara penulisan ijasah asli siswa-siswi yang akan mendaftar di SMA/sederajat belum rampung, maka untuk sementara pihak SMPN 1 Wangi-Wangi membuatkan ijasah sementara, agar Siswa/i yang telah dinyatakan lulus UAN di SMPN 1 Wangi-Wangi beberapa minggu lalu, bisa memenuhi persyaratan untuk bisa mendaftar di SMA/sederajat dimanapun nanti mereka mendaftar.
Dikatakannya, penulisan ijasah asli bagi siswa-siswi Kelas IX yang telah dinyatakan lulus mengikuti UAN beberapa minggu lalu baru akan rampung sekitar Senin (21/06/2010) keatas. Sementara penulisan ijasah asli tersebut perlu kehati-hatian agar tidak terjadi kesalahan yang diakibatkan kelalaian dalam penulisan.
“Sepanjang sekolah yang dijadikan sasaran siswa-siswi Kelas IX untuk mendaftar masuk SMA tidak mempersoalkan ijasah sementara untuk mendaftar, maka pihak SMPN 1 Wangi-Wangi akan berupaya agar alumni SMPN 1 Wangi-Wangi bisa mendapatkan kemudahan dan berjaya setelah menuntut ilmu di jenjang yang lebih tinggi lagi,” katanya.
Ditambahkannya, penulisan ijasah asli bagi 288 orang siswa-siswi Kelas IX yang telah menamatkan sekolahnya di SMPN 1 Wangi-Wangi diperkirakan akan rampung sekitar (21/6) keatas. Karena, menurut dia, penulisan ijasah asli tersebut harus lebih teliti. “Dan saat ini, sudah hampir semua Siswa-siswi sudah bisa menggunakan ijasah sementara untuk mendaftar ditingkat SMA/sederajat, bahkan ada sekitar dua puluh orang yang mendaftar di luar daerah seperti Baubau dan Kendari,” ujarnya.(Anto)
Piala Karate-Do Wakatobi Diserahkan pada Hari Puncak Dirgahayu Bhayangkara
Wangi-Wangi, Wakatobi News
Sebanyak 143 peserta Karate-Do Wakatobi yang ikut berlaga sejak Selasa (29/06/2010) hingga Rabu (30/06/2010) lalu telah berakhir. Secara resmi hari itu juga dilakukan acara penutupan oleh Kapolres yang diwakili Wakapolres Wakatobi, Kompol Sigit Widagdo, SIK. Disampaikannya bahwasannya Piala Karate-Do Wakatobi akan diserahkan kepada pemenang pada hari puncak Dirgahayu Bhayangkara.
Wakapolres yang baru pertama kalinya melakukan tatap muka di khalayak Wakatobi, sebelum menutup acara mengatakan sempat memberikan motivasi kepada peserta Karate-Do. Ia menyampaikan dukungannya secara lembaga kepada Guru Karate dan ungkapan partisipasi semua pihak dalam kegiatan. “Kepada yang berhasil meraih prestasi agar dapat terus meningkatkan prestasi, agar bisa meraih prestasi lebih tinggi lagi. Karena, masih ada kejuaran di tingkat Provinsi dan tingkat Nasional. Begitu juga kepada yang belum berhasil, agar dapat meningkatkan kemampuan dengan cara jangan malas untuk berlatih terus. Belum sempat meraih juara, itu merupakan sukses yang tertunda,” saranya.
Selain Wakapolres hadir juga Ketua Inkanas Wakatobi, Muh Ali, SP, Kepala Dinas Pendidikan Nasional, Pemuda dan Olahraga (Diknaspora) Kabupaten Wakatobi, Drs. H. Masiuddin, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten Wakatobi, Drs.H. Hasirun Ady, M.Si.
Kadis Diknaspora Kabupaten Wakatobi yang ditemui pada kesempatan itu menyampaikan dukungan sebesar-besarnya atas terlaksananya kegiatan tersebut, termasuk dukungan menjadikan even kejuaran karate masuk kalender tahunan. Perlu ada dukungan itu juga, menurutnya karena olahraga karate merupakan salah satu olehraga yang mampu membentuk karakter keperibadian pemuda yang disiplin.
“Di Wakatobi ada banyak olahraga yang dikembangkan, tinggal pemuda itu sendiri memilihnya, kalau di tingkat sekolah olahraga merupakan bagian dari ekstra kulikuler. Dukungan kita juga cukup besar, kalau tidak ada halangan tanggal 2 besok ini saya akan ke Jakarta, akan menjemput bantuan untuk pembangunan sarana fisik olahraga. Sarana itu berupa gedung olahraga termasuk asrama olahraga dan lainnya. Dana untuk sarana itu sekitar dua milyar (Rp. 2 M) lebih,” ujarnya.
Kadis Budpar, Hasirun Ady pada kesempatan itu juga memberikan komentar dukungan terhadap olah raga karate-do yang dikembangkan di Kabupaten Wakatobi. Menurutnya, kedepan kalau Wakatobi dipercaya menjadi tuan rumah kejuaraan karate-do se Sultra. Tentunya akan membuat orang berdatangan di Wakatobi, dengan demikian maka sejumlah usaha seperti perhotelan, penginapan dan lainnya akan semakin maju.
“Kita dapat kalkulasikan kegiatan se Wakatobi saja pesertanya 143, kalau se Sultra ini tentunya akan lebih banyak. Saya kira, rencana pembangunan sarana olah raga dan pengembangan olah raga di berbagai cabang olah raga patut didukung. Karena pariwisata maju, tidak hanya melalui potensi yang sudah ada saja tapi melalui olah raga juga pengaruhnya cukup besar,” katanya.
Terakhir Ketua Forki dan Ketua Inkanas Wakatobi, Muh Ali, SP juga menyampaikan sebagai pihak yang mewakili Forki dan Inkanas Wakatobi, dirinya merasa bangga. Karena mendapat dukungan dari semua pihak, harapannya dukungan itu terus mengalir sehingga dapat mengukir berbagai prestasi pemuda Wakatobi saat ini dan masa yang akan datang.
“Dukungan semua pihak sangat berharga bagi pemuda-pemuda Wakatobi, kita harus yakin pemuda kita akan lebih unggul dari pada daerah lain. Terkhusus, kami meminta dukungan dari Kapolda Sultra dan Kapolres Wakatobi, untuk terus memberi bimbingan dan pembinaannya,” ujar Ketua Inkanas yang juga Ketua Fraksi PDI-P di DPRD Wakatobi itu.(Anto)





BERITA KEMARIN

1 09 2009

Warga Minta Bupati Tinjau Kembali Layanan Publik

Wangi-Wangi, WaKaToBi News
Sejumlah warga meminta kepada Bupati Hugua sebagai Kepala Daerah Kabupaten Wakatobi untuk meninjau kembali soal layanan publik. Menurut penilaian beberapa warga yang sempat direkam wartawan Wakatobi News Group Buton Raya News menyampaikan bahwa banyak pelayanan yang dilakukan Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) hingga layanan di Pemerintah Desa atau Kelurahan belum sesuai dengan harapan warga.
Menurut salah seorang warga Kelurahan Pongo, Baharudin, S.Sos ketika menemui Wartawan Koran ini, Senin (11/10/2009) lalu mengatakan bahwa, harapan Pemda Wakatobi sesuai Visi dan Misinya, yakni untuk mensejahterakan masyarakatnya –yang sering disampaikan Bupati Hugua belum terealisasi dengan baik. Hal itu dilihat dari masih banyaknya layanan yang tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat banyak.
“Salah satu layanan yang tidak memuaskan warga seperti menyangkut pelayanan pembuatan KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran dan sejumlah layanan lainnya yang erat kaitanya dengan pelayanan untuk masyarakat,” ujarnya sembari mengatakan layanan kemasyarakatan juga di sejumlah SKPD masih banyak yang lemah. Dimana terkadang pihak-pihak terkait di SKPD jarang berkantor.
“Bagaimana kita bilang tidak memuaskan, karena pada pelayanan seperti pembuatan KTP dan sebagainya itu, kita mesti harus membayar satu surat pengantar dari Desa/Kelurahan minimal Rp.10.000 per satu surat pengantar. Terus kita minta tanda tangan dan stempel saja ke Camat bayar lagi Rp.10.000. Anehnya kok mahallah di Desa/Kelurahan dan Camat dibandingkan di Kantor Catatan Sipil (Capil) yang harganya hanya Rp.7.000,” ujarnya.
Hal yang sama juga disampaikan salah seorang mahasiswa, Amuridin bahwa, pelayanan pembuatan KTP untuk masyarakat mestinya tidak memberatkan. Pemerintah Desa/Kelurahan maupun Camat mestinya tidak mengambil keuntungan melalui hal seperti itu. Seharusnya pihak pemerintah lebih kreatif mendapatkan keuntungan melalui potensi masyarakat yang ada, tapi tidak seperti itu caranya.
“Kita sebagai masyarakat kecewa atas pelayanan itu. Kita saja yang masih ada pendapatan perbulan merasa berat, bagaimana masyarakat yang hidupnya masih kesulitan dalam mendapatkan uang sudah pasti mereka berat dan terpukul dengan pembayaran seperti itu. Saya kira di daerah ini banyak yang memilih tidak punya KTP, karena dibebankan seperti itu,” ungkapnya sembari mengatakan masih banyak layanan publik yang mesti perlu ditinjau.
Selain itu seperti yang dikeluhkan oleh warga Mandati, La Onso, ia mengatakan bahwa layanan untuk kepentingan masyarakat seperti pembuatan surat ijin keramaian cukup rumit dan menguras saku. Karena masyarakat mesti harus mengurus ke beberapa lembaga seperti ke Kantor Kelurahan/Desa, Camat, Kepolisian. Dimana masing-masing lembaga tersebut harus membayar dengan harga Rp25.000.
Ia juga menyinggung soal layanan untuk kepentingan masyarakat. Salah satu contoh ganti rugi hak masyarakat yang cukup memberatkan seperti ganti rugi tanah yang kena gusur pemerintah hanya dibayar Rp.2.000 lebih saja. Kemudian ganti rugi tanaman yang digusur juga demikian. “Masa tanaman masyarakat petani yang hidupnya dari lahan dan tanaman dibayar ganti rugi cukup rendah. Contoh seperti ganti rugi kelapa yang sudah berbuah hanya dibayar Rp.5.500 per pohon. Ubi kayu hanya diganti Rp.150, ini tentunya merupakan layanan yang kurang berpihak kepada publik. Kita sampaikan seperti ini karena kita di Wakatobi ini sebagian besar masyarakat miskin. Kita tidak punya pendapatan seperti kontraktor ataupun pengawai,” ujarnya.(BRn30)

Standar Gaji PNS Rp5 Juta Tahun 2011 Direspon Positif BKD Wakatobi

Wangi-Wangi, WaKaToBi News
Kabar gembira yang dihembuskan Pemerintah Pusat melalui Deputi Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) Bidang SDM, Effendi Ramli Naibaho melalui media direspon Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten (BKD) Wakatobi.
Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah Dan Pendidikan Dan Pelatihan Kabupaten Wakatobi, LD. Rasinu mengatakan, hendaknya rencana pengajian standar Pegawai Negeri Sipil (PNS) Rp.5 juta per bulan dengan berbasis kinerja tersebut dapat terealisasi sesuai dengan rencana. Karena dengan memberlakukan pengajian berbasis kinerja, maka PNS akan lebih proaktif dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Sesuai dengan informasi yang diterimanya, sebelum terealisasinya rencana itu sudah beberapa langkah telah dilakukan oleh pihak pemerintah pusat yakni dengan dilakukanya uji coba di tiga departemen di Pemerintah Pusat. Disamping itu juga para pakar sementara terus melakukan penyusunan draf atau sistim yang akan diberlakukan nantinya.
Dengan demikian pihak PNS tentunya akan terus meningkatkan kerja atau tugas-tugasnya, karena gaji yang akan diterimanya berasal dari penilaian. Karena jika seseorang PNS tidak bekerja sesuai dengan target, maka tentunya dia tidak bisa menerima gaji full atau tidak bisa menerima gaji sesuai dengan yang diharapkan.
“Standar gaji PNS yang golongan rendah (Golongan 1A) saja bisa mencapai Rp5 juta, apa lagi gaji golongan yang lebih tinggi tentunya akan lebih besar lagi. Tapi semua itu disesuaikan dengan kinerjanya. Kalau kinerjanya bagus, maka ia akan terima memuaskan tapi sebaliknya jika kinerjanya lemah maka mau tidak mau dia terima gaji apa adanya,” katanya.
Lanjutnya untuk penilaian kinerja itu, seperti yang telah disampaikan melalui media beberapa waktu lalu menyebutkan, bahwa pihak Kementrian PAN bersama departemen terkait lainnya yang masuk dalam Tim Reformasi Birokrasi, menyebutkan saat ini pihaknya sedang melakukan analisis terhadap instansi-instansi penerima renumerasi tahun depan. Antara lain Kementrian PAN, Depkes, Departemen PU, Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Kepolisian, TNI, Mahkamah Agung, Kejaksaan, dan lainnya.
Lebih lanjut ia mengatakan terkait informasi dari pusat itu, menurutnya sebagian besar pegawai yang ada, seperti pegawai berstatus PNS Wakatobi akan mendukung kebijakan pemerintah pusat.( BRn30)

Wakatobi Jadi Perbincangan Para Pakar Lingkungan Hidup

Wangi-Wangi, WaKaToBi News

Masa depan Wakatobi, tanpak cerah. Dimana pada saat dilangsungkannya Seminar Nasional Lingkungan Hidup, sejumlah para pakar di Indonesia yang hadir mereka semua sibuk berbincang, untuk membicarakan bagaiman Wakatobi kedepan. Hal itu tentunya karena potensi bahari Wakatobi cukup strategis dibandingkan potensi bahari di daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Sebagai pembuka yang disajikan Bupati, Hugua tentang potensi kelautan yang ada di Wakatobi, pada saat itu sepertinya cukup menyedot perhatian dari sejumlah pakar lingkungan hidup. Hal itu terbukti dari penyampaian salah satu dari penyaji makalah Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra yang langsung mengatakan, bahwa visi dan misi Pemda Wakatobi yang dibagun Bupati, Hugua tentang pengelolaan wilayah pesisir terintegrasi cukup tepat dan jelas sasarannya.

“Kalau tadi saya disampaikan oleh Bupati tentang potensi Wakatobi, saya katakana bahwa tadi saya sedang belajar dengan seorang Profesor (Bupati Hugua). Saya ucapkan selamat kepada Pemda Wakatobi, karena Wakatobi sangat stategis dari banyak sisi disamping juga Bupati Wakatobi, Hugua memiliki banyak kemampuan dalam memajukan daerah ini,” ungkapnya.

Menurutnya meskipun Wakatobi merupakan bagian kecilnya Bangsa Indonesia, namun Wakatobi bisa dijadikan kiblat Bangsa Indonesia sebagai contoh yang patut diikuti daerah-daerah pesisir lainnya di Indonesia.

Pada kesempatan itu juga Ir. Lucky H. Korah, M.Si seperti PLT (Pelaksana Tugas) Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) yang juga bertindak sebagai Sesmen (Sekertaris Meteri) PDT mengungkapkan peranan kementrian Negara PDT dalam memberdayakan masyarakat, khususnya masyarakat pesisir lebih diutamakan. Karena berdasarkan luas wilayah 2,3 Indonesia ini terdiri dari kawasan laut dan profesi masyarakat nelayan mencapai 215 jiwa. Jumlah tersebut dianggap cukup besar.

Menurutnya Pemerintah RI masih sangat konsisten dalam membangun daerah tertinggal. Daerah tertinggal (Kabupaten) yang masuk dalam tahap pembangunan yakni sebanyak 199 Kabupaten. Daerah tertinggal yang ia maksud termasuk di seluruh Kabupaten yang ada di bawah Provinsi Sulawesi Tenggara kecuali ibu kotanya.

“Berbicara daerah tertinggal, saya harap agar tidak tersinggiung. Perlu diketahui bahwa yang dimaksud daerah tertinggal adalah karena terjadinya kesenjangan individu masyarakatnya. Membangun daerah tertinggal dibutuhkan pembangunan infrastruktur, karena dengan infrastrukturlah akan ada perubahan daerah tertingal menjadi lebih baik,” ujarnya.

Menurutnya dalam pranan pemanasan global yang terjadi, tentunya trumbu karang Wakatobi mempunyai pranan penting. Karena trumbu karang memiliki kemampuan menyerap C02. Sehingga Taman Laut Nasional Wakatobi dapat menjadi bagian paru-paru dunia begitu juga dengan trumbu karang Bunaken, Rajaampat dan wilayah lainnya yang memiliki ptensi trumbu karang.

Selain pembicara tersebut pada seminar nasional lingkungan hidup dalam pranan segitiga karang dunia (Wakatobi, Bunaken dan Rajaampat) dalam mengantisipasi dampak pemananasan global itu juga dibahas beberapa hal lainnya yang berkaitan dengan lingkungan. Diantaranya seperti tentang pembelajaran dari pengelolaan trumbu karang Indonesia yang disampaikan Dr. Malikusworo Hutomo, APU (PPSML-PSIL UI) .

Kemudian pemberdayaan masyarakat pesisir dalam pelestarian trumbu karang oleh Prof. Dr. Ir. Abimanyu Takdir Alamsyah, MS (KPP UI, Ars FT UI). Pembangunan dan lingkungan dengan tinjauan terhadap parairan laut dangkal oleh Dr. Hasroel Thayeb, APU (PPSML-PSIL UI). Selanjutnya peranan WWF dalam rangka konservasi trumbu karang oleh Wawan Ridwan (Direktur WWF), tsunami early warning sistem dan mitigasi kebencanaan di wilayah pesisir Ir. Nawa Suwedi, M.Sc (BPPT).

Dilanjutkan lagi oleh Sakariza Q.H dari PT. BNI (Manager Riset Ekonomi & Bisnis) ia menyampaikan tentang partisipasi swasta dalam program konservasi lingkungan dan terakhir penyampaian oleh Dr. A. Sonny Keraf, pihak DPR RI sekaligus Mantan Menteri Lingkungan Hidup.

Seminar yang dilaksanakan tersebut disajikan oleh para pakar lingkungan secara bergantian dengan menyajikan seisen tanya jawab antara penyaji dengan peserta seminar. Selama dilaksanakannya kegiatan tersebut, dilakukan jedah (istirahat) selama tiga kali hingga pada penutupan kegiatan.(BRn30)

Dinas Pariwisata Rencanakan Gelar Open Turnamen Bersekala Nasional

Wangi-Wangi, WaKaToBi News

Dalam rangka persiapan untuk mengikuti Kapolda Cup yang dilaksanakan akhir bulan ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Wakatobi menggelar kejuaraan Bola Volly dengan kerjasama dengan Polres Wakatobi. Direncanakan Tahun 2010 nanti, Dinas Kebudaya dan Pariwisata akan menggelar Open Turnamen bersekala Nasional yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Nasional, Pemuda dan Olahraga.

Dengan demikian para atlit diseluruh Indonesia akan bakal datang untuk berlaga dalam rangka merebut piala kejuaraan di Wakatobi. Demikian disampaiakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi, Drs. Hasirun Ady, M.Si saat diwawancari wartawan Koran ini Jumat (9/10) usai pembukaan kejuaraan bola volley di lapangan Merdeka Wangi-Wangi.

“Kita harap melalui kegiatan ini dapat melahirkan bibit pemain yang mampu tampil bersaing dengan pemain nasional. Kita akan bina pemain-pemain kita sehingga, rencana kita pada tahun depan mereka juga dapat tampil mewakili Wakatobi. Kalau saya lihat kemampuan pemuda kita cukup bagus, dan sangat perlu sekali kita pupuk agar potensi yang dimilikinya dapat dikelolah dengan baik,” ungkapnya.

Ia mengatakan pada open turnamen yang akan dilaksanakan pada momen perigatan hari pendidikan pada 2 Mei, selain Bola Volly yang direncanakan itu. Pihaknya juga akan mencoba melibatkan cabang olahraga lain seperti pertandingan bola volly pantai. Karena bola volly pantai cukup berkaitan dengan potensi pantai yang ada di Wakatobi.

“Tujuan kita memadukan pariwisata dengan olahraga, tentunya untuk mensukseskan tujuan daerah. Karena dengan melibatkan atlit dari daerah luar tentunya, memiliki dampak tersendiri buat daerah ini. Paling tidak kalau ditinjau dari sisi kepariwisataan maka, secara otomatis mereka telah mendatangkan uang bagi daerah kita melalui sewa perhotelan dan sebagainya,” ungkapnya.

Lanjutnya, dampak positif lainnya bagi atlit yang datang ke Wakatobi yakni mereka akan dapat menikmati keindahan alam Wakatobi. Karena menurutnya, ketika para atlit datang disela-sela atau usai mengikuti kejuaraan pihaknya akan memanjakan mereka dengan berwisata ditempat wisata yang ada di Wakatobi. (BRn30)

Kadis PNPO Wakatobi Mengharamkan Pungli di Setiap Sekolah

Wangi-Wangi, Wakatobi News

Munculnya berbagai punggutan liar (Pungli) dari pihak sekolah yang disinyalir diprakarsai Oknum Kepala Sekolah (KASEK) di tingkat SD, SMP, SMA/MA di Wakatobi belakangan ini lebih khususnya menyangkut pungutan untuk pembayaran ijasah. Ternyata mengundang kemarahan besar dari Kepala Dinas Pendidikan Nasional, Pemuda dan Olahraga (PNPO) Kabupaten Wakatobi, Drs. H. Masiuddin. Kemarahan Kepala Dinas ini dilampiaskannya sehingga diketahui oleh kulih tinta yang ada di Wakatobi pada saat Drs. H. Masiuddin diwawancarai oleh wartawan koran ini Sabtu (05/09/09) lalu usai pertemuan di Aula MTs. Negeri Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi.

Untuk itu, Drs. H. Masiuddin meminta kepada semua masyarakat Wakatobi yang merasa telah dirugikan dengan adanya pungli –pungutan untuk menebus ijasah seperti itu– agar segera dilaporkan kepada Dinas Pendidikan Nasional, Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Wakatobi dan untuk selanjutnya KASEK yang berkasus memungut biaya dari Siswa/i itu akan segera dipanggil dan diberikan teguran keras atas ulahnya mereka. “Pelarangan pemungutan biaya ijasah bukan untuk tingkat SD, SMP saja tetapi tingkat SMA juga dilarang,” tegas Drs. H. Masiuddin menjawab pertanyaan wartawan koran ini.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan; “Dulu pada Tahun 2008 pernah ada kasus seperti itu, ada salah satu sekolah yang menarik biaya penebusan ijasah. Maka, ketika saya ketahui hal itu saya langsung pangilkan kepala sekolahnya karena penarikan itu tidak punya alasan jelas (dasar,Red) maka uang tersebut saya minta dia gantikan. Saya harap kepada masyarakat yang merasa dirugikan seberapa pun kecilnya yang dirugikan agar dapat melaporkan, biar kita tindak tegas pihak sekolah yang nakal,” tegasnya.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun Wartawan Wakatobi News Group Buton Raya News, Surfianto dari pihak wali murid belakangan ini menyebutkan, bahwa hampir 70 persen sekolah di Wakatobi melakukan penarikan biaya (melakukan pungli), terutama penarikan biaya pengambilan ijasah.

Salah seorang nara sumber, Damrin Ade kepada Wartawan Wakatobi News Group Buton Raya News mengungkapkan bahwa, dirinya selaku wali murid yang anaknya barusan selesai menamatkan SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan juga mengalami nasib serupa. Dia mengeluh karena adanya penarikan biaya pengambilan ijasah dari pihak sekolah tempat anaknya menyelesaikan studinya, sehingga ia mempertanyakan mengapa setiap Siswa/i dibebankan dengan biaya sebesar Rp.100.000?
“Ini sangat ironis sekali. Ketika Pemda Wakatobi menggaungkan pendidikan gratis di daerah ini, ternyata sama sekali tidak terbukti. Contohnya banyak sekali kasus pungli yang dilakukan pihak sekolah di daerah ini mulai dari biaya masuk sekolah seperti di SMP Negeri 1 Wangi-Wangi dan lainnya. Seharusnya pihak Dinas Pendidikan harus bertindak tegas. Jangan hanya katanya saja, ini menyangkut kredibilitas daerah dan institusi Pemda Wakatobi lho,” tegasnya.

Di tempat terpisah, Salah seorang nara sumber, Dafid kepada Wartawan Wakatobi News Group Buton Raya News mengungkapkan bahwa, selama ini di sekolahnya pihaknya memberlakukan sekolahnya dengan serba gratis. Khusus untuk proses Ujian Sekolah/Ujian Nasional sampai pembagian ijasah sama sekali tidak dipungut biaya satu persen pun. “Mulai dari pensil hingga kertas dan sebagainya digeratiskan sekolah,” imbunya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 3 Wangi-Wangi Selatan, Alimin B, S.Pd kepada Wartawan WaKaToBi News Group Buton Raya News yang ditemui di ruang kerjanya Jumat (09/10/2009) lalu menegaskan bahwa, pihaknya melakukan hal itu karena prihatin dengan kondisi sekolahnya yang kurang mendapat perhatian dari Pemda Wakatobi, dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Wakatobi. “Saya sebagai putra daerah saya merasa malu melihat begini saja kita punya sekolah,” tegasnya.

Menurut Alimin, uang kesepakatan yang seratus ribu itu merupakan Program Komite Sekolah untuk pengadaan pagar karena mengingat keamanan siswa. “Kiat-kiat ini diambil karena sampai saat ini SMP 3 Wangi-Wangi Selatan belum pernah dapat paket proyek dari Pemda Wakatobi. Bangunan yang ada ini adalah merupakan dana blog grand dari tahun 2003 – 2004,” ucapanya.

Lebih lanjut dirinya menegaskan, SMP 3 Wangi-Wangi Selatan hingga saat ini belum pernah ada proyek. “Saya sudah mengusulkan beberapa proyek yaitu pengadaan laboratorium kantor dan laboratorium Komputer sejak dua tahun yang lalu, namun hingga saat ini belum juga direalisasikan,” sesalnya dengan nada berharap. (BRn30)

Sesosok Mayat Perempuan Ditemukan Membusuk di Bente

Wangi-Wangi, Wakatobi News

Mayat PerempuanDisepanjang jalan masuk ke semak-semak di kompleks Bente, Wangi-Wangi Senin (31/08/09) lalu tiba-tiba dipenuhi warga. Pasalnya di kompleks tersebut ditemukan sesosok mayat perempuan yang telah membusuk, sehingga mendorong warga di sekitar Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) mendekati semak-semak itu untuk menyaksikan penemuan mayat yang diidentifilkasi bernama Wa Jahidi (62).

AKBP Pitra Andreas Ratulangi, SIK

AKBP Pitra Andreas Ratulangi, SIK

Menurut Kapolres Wakatobi, AKBP Pitra Andreas Ratulangi, SIK yang dihubungi wartawan di ruang kerjanya Selasa (01/09/2009) lalu menjelaskan bahwa, mayat tersebut diketahui setelah adanya laporan warga. Setelah mendapat laporan warga, sejurus kemudian Anggota Polres Wakatobi turun ke TKP dan langsung memasang Police Line.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun wartawan Wakatobi News –Group Buton Raya News–, warga setempat yang egan namanya dikorankan menuturkan bahwa, awalnya ia mencium bau bangkai yang membusuk di sekitar perumahan warga -–kebetulan ia lewat di TKP itu–, karena penasaran ia selaku pelapor langsung menelusuri arah bau busuk itu. Ternyata di TKP ia menemukan sesosok mayat perempuan yang telah membusuk hingga kepala tengkoraknya hampir kelihatan dan mengeluarkan bau busuk.

Lebih lanjut, Kapolres Wakatobi menjelaskan, mayat tersebut diperkirakan telah meninggal dunia sekitar 4-5 hari yang lalu. “Kita langsung melakukan olah TKP yang tujuannya untuk mengidentifikasi penyebab meninggalnya korban. Berdasarkan hasil olah TKP, sementara ini kita tidak menemukan tanda-tanda terjadinya kekerasan. Informasi yang kita terima dari pihak keluarga korban menyebutkan bahwa kondisi korban sebelum meninggal memang sudah sakit-sakitan. Adapun sakit yang diderita korban adalah sakit jantung dan darah tinggi,” ungkap Kapolres Wakatobi.

Berdasarkan keterangan sementara dari Dokter RSUD Wakatobi pada tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Meski demikian menurut Kapolres, pihaknya belum dapat sepenuhnya percaya. Pihaknya akan tetap melakukan pendalaman kasus. Pada tahap ini pihaknya masih tetap menunggu hasil visium dari RSUD.(BRn30)

Papan Ajaib di Mola Selatan Mengundang Penasaran Warga

Wangi-Wangi, Wakatobi News

Warga Wakatobi khususnya di Wangi-Wangi dihebohkan dengan penemuan papan ajaib oleh Abdul Gafur warga Desa Mola Selatan. Penemuan itu berupa papan bergambar berbentuk dua orang manusia yakni gambar laki-laki dan gambar perempuan.

Manusia PapanSejak ditemukan keajaiban itu pada Senin (31/08/09) hingga Selasa (01/09/09) lalu mengundang ribuan warga Kabupaten Wakatobi khususnya di sekitar Wangi-Wangi berbondong-bondong mendatangi rumah milik Abdul Gafur tempat penyimpanan papan ajaib itu. Setiap warga yang datang keheran-heranan dan mereka juga berusaha agar bisa mengabadikan foto itu menggunakan kameranya. Papan yang semulanya seperti papan biasa diketahui memiliki keajaiban, setelah melalui proses mimpi dan proses pengelolaan papan tersebut.

Diceritakannya, awal diketahui adanya keajaiban itu yakni pada malam Jumat (28/08/09) lalu. Kemudian pada Sabtu (29/08/09) lalu, istrinya Muyati dua malam berturut-turut bermimpi bertemu dengan orang tua berjenggot (mirip kiyai). Lalu orang tua itu memberikan dua orang kepada suaminya (Abdul Gafur), dua orang itu satu perempuan satu laki-laki. Pada malam Senin (31/08/09) lalu dia juga bermimpi diberi tau orang tua berjenggot sampai kedalam dadanya itu, orang tua itu pun mengatakan banyak orang yang akan datang kerumahnya.

“Orang tua itu bilang perempuan dan laki-laki yang dikasinya itu ada di koli-koli (sampan,Red) miliknya. Pada saat itu memang papan ini ada di koli-koli. Saya juga tidak menduga, hingga pada hari Minggu (30/08/09) lalu saya skap papan yang saya beli dari Kampung Langkumbe Ereke itu,” imbuhnya.

ABDUL GAFURLebih lanjut Abdul Gafur menjelaskan; “Pada papan bagian pertama tidak ada apa-apa (tidak terlihat apa-apa,Red), lalu bagian sebelahnya mau terakhir alat skap tidak mampu diangkat lagi. Sebelumnya saya sempat potong bagian bawahnya, langsung tiga orang keserupan yang mengatakan kakinya berdarah dan minta kakinya yang terpotong diambilkan (dikembalikan,red),” ujarnya dengan serius.

Tidak sebatas itu saja, tetapi pada malam hari sebelum Selasa (02/09/09) lalu ia pun bermimpi bertemu seorang cewek cantiknya bukan main. Cantiknya seperti Ratu Nyai Loro Kidul yang ada di salah satu film, dia tidak bicara apa-apa. Tetapi dirinya melihat dengan jelas perempuan cantik itu berdiri di tengah-tengah air.

KEPALA BIRO BUTON RAYA NEWS UNTUK WAKATOBI, SUFRIANTO

KEPALA BIRO BUTON RAYA NEWS KABUPATEN WAKATOBI, SUFRIANTO SEDANG MEWAWANCARAI ABDUL GAFUR

Mantan Kades Mola Selatan itu juga mengatakan sebelum ditemukan benda itu, beberapa waktu sebelumnya, keluarganya dan dirinya melihat ada banyang-banyang yang lalu lalang di rumahnya. Bukan hanya dia termasuk tetangganya melihat orang yang tidak dikenal duduk di teras rumahnya. “Setelah tidak melihat lagi orang duduk. Tentangga saya tanya siapa orang yang duduk di teras rumahmu, saya bilang tidak ada dan saya pun heran kenapa bisa dia lihat itu,” ujarnya.

Di tempat terpisah, salah seorang Tokoh Masyarakat Bajo atau yang dikenal dengan Punggawa Bajo yakni Naseng Rabana ketika ditemui wartawan Wakatobi News Group Buton Raya News mengatakan bahwa, kejadian itu merupakan penomena alam. Pada keajaiban itu banyak hal yang dapat dijadikan acuan bagi manusia, entah itu suatu peringatan atau hal lainnya. “Kayu itukan namanya kayu Asanah (kayu merah). Jangan heran kalau kayu itu memiliki keajaiban, karena pada jaman dahulu kayu jenis ini juga digunakan para Nabi untuk dijadikan senjata. Contohnya pada jaman Nabi Zakaria yang mana pada waktu itu dikejar musuhnya. Karena tidak ada tempat bersembunyi maka dengan kekuasaan Allah SWT ia bisa bersembunyi dalam kayu. Karena Iblis yang memberitahukan, maka kayu itu dipotong dan Nabi Zakaria meninggal bersama kayu Asanah itu,” ujarnya.

Menurutnya bukan itu saja, tetapi kayu Asanah itu juga digunakan Nabi Musa As sebagai tongkat ajaibnya yang bisa membela lautan. Termasuk kayu itu juga digunakan oleh Nabi Nuh As untuk membuat kapal untuk perlindungan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. Dia berharap dengan penemuan itu agar bisa memberikan perubahan kearah yang lebih baik lagi.(BRn30)

Festival Wakatobi Sail Indonesia Tahun 2009 “Berkah” di Bulan Suci Ramadhan

Wangi-Wangi, Wakatobi News

Masyarakat Wakatobi sangat mengharapkan semoga Penyelenggaraan Festival Wakatobi Sail Indonesia Tahun 2009 yang dibuka langsung oleh Bupati Wakatobi, Ir. Hugua yang dipusatkan di Lapangan Merdeka Wakatobi mulai Senin (26/08/2009) sampai dengan Minggu (30/08/2009) lalu dapat membawa “Berkah” bagi Masyarakat Wakatobi di Bulan Suci Ramadhan.

SUFRIANTO & NADINKepala Biro Buton Raya News Kabupaten Wakatobi, Sufrianto melaporkan, bahwa Bupati Wakatobi, Ir. Hugua menaruh harapan yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Wakatobi, khususnya yang tinggal di sekitar Lapangan Merdeka Wakatobi untuk bisa memanfaaatkan momentum tersebut dengan sebaik-baiknya. Pasalnya pelaksanaan festival ini bisa menjadi berkah di Bulan Suci Ramadhan apabila dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Masyarakat Wakatobi pada umumnya.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini kami laporkan hasil wawancara Wartawan Buton Raya News, Surfianto dengan Bupati Wakatobi, Ir. Hugua seputar pelaksanaan Festival Wakatobi Sail Indonesia Tahun 2009 sebagai berikut:

Bagaimana tanggapan Bapak Bupati dengan melihat antusiasnya masyarakat Wakatobi maupun para peserta (Turis) yang mengikuti Festival ini? Ir. HUGUA

“Festival ini berjalan lancar dan bisa dilihat dari tanggapan mereka cukup menikmatinya dan saya kira kita melaksanakan dengan ivent Karia-ria dan Kabuenga. Dan itu bisa dihadiri ribuan orang dan juga besok ada pagelaran budaya, malamnya ada ritual keagamaan Tarawih bersama dengan Ustad Amrin Amir dari Makassar,” jawabnya dengan nada bersahabat.

Apa kira-kira keuntungan yang didapatkan oleh Kabupaten Wakatobi dari Kegiatan Festival Wakatobi Sail Indonesia Tahun 2009?

“Oh ia Wakatobi sebagai tujuan Pariwisata Dunia hari ini, semakin dikenal bukan cuman potensi bawah lautnya tetapi potensi budayanya yang begitu beragam, sehingga ekspresi mereka (para peserta, yakni turis manca negara,Red) cukup menggembirakan, karena kita sungguhkan dengan tarian-tarian tradisional yang agamais, sehingga mereka kagum dengan kebesaran Indonesia. Itu yang paling membanggakan kami karena dengan otonomi daerah kreatifitas lokal akan semakim memperbesar posisi Indonesia di mata dunia,” urainya, sembari menegaskan, begitu banyaknya keragaman budaya Indonesia.

Bagaimanakah sih keindahannya bawah laut Wakatobi itu?

“Wah keindahan Laut Wakatobi (luar biasa,Red), coba kita bandingkan dengan Karibia hanya memiliki 50 spesis terumbu karang, Laut Merah Mesir sekitar 300 spesis terumbu karang, sedangkan di Wakatobi (menurut penelitian Universitas Asing Eropa,Red) spesis yang ada di dalam laut Wakatobi sebanyak 750 Terumbu Karang dari total 850 Terumbu Karang yang ada di Dunia, sebesar 99% ada di Bawah Laut Wakatobi. Betapa dasyatnya Wakatobi,” jawabnya dengan nada bersahaja. Hugua pun menambahkan, untuk Indonesia Wakatobi sebagai Pusat Segi Tiga Karang Dunia.

Bagaiamanakah dengan perlindungan Lautnya?

“Tentu Pemda sedang membuat zonasi. Kemudian Nelayan semakin sadar, apalagi sianida (potas,Red) dan pemboman (semakin berkurang dan lambat laun masyarakat akan sadar bahwa sianida dan pemboman ikan merupakan tindakan yang tidak baik, karena berdampak negatif bagi terumbu karang dan benih ikan sebagai sumber kehidupan masyarakat Wakatobi khsususnya dan masyarakat dunia pada umumnya,Red). Kalau toh masih ada itu, paling tidak lama (baru ada, itu pun dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab,Red), karena (mereka atau oknum,Red) akan menjalani hukuman (akibat perbuatan terlarang yang mereka lakukan tersebut,Red). WWF, TNC, CORMEP dan Pemda Wakatobi saling koordinasi untuk menjaga kelestarian alam yang menurut saya ini adalah kekayaan Indonesia yang tidak bisa dibayangkan. Tentu promosi seperti Sail Indonesia (perlu sering digelar,Red),” tegasnya, sembari menambahkan; “Yang kedua kami adakan promosi-promosi seminar di dunia, dengan adanya penerbangan rutin di Wakatobi ini dua kali sehari semakin menjamin para wisatawan dan kunjungan-kunjungan dari mana pun. Wakatobi semakin aman dan tepat waktu dalam perjalanan menuju Wakatobi. Dengan kunjungan Wisata, coba kita lihat para camat, masyarakat lokal dan semakin percaya. Dan inikan yang perlu diangkat, Indonesia dan kultur budaya kita ini, sehingga saya merasa bangga dengan kedatangan warga asing saat ini,” ungkapnya, sembari menambahkan; “Saya semakin percaya diri karena kita memiliki budaya yang tidak dimiliki daerah-daerah lain bila dibandingkan dengan budaya-budaya lain yang ada di Indonesia,” imbuhnya.

Kira-kira berapa pendapatan dari kegiatan ini?

“Kabupaten Wakatobi sudah lima (5) tahun dimekarkan, baru tiga (3) tahun membangun. Untuk PDRBnya 45% bersumber dari Sektor Perikanan, Sektor Pariwisata 14%. Kami berharap dengan adanya Kegiatan Wakatobi Sail Indonesia, antara sektor Perikanan dan Pariwisata (dapat meningkatkan volume pendapatan masyarakat wakatobi kedepan, karena,Red), Wisata kita bukan cuma di bawah laut tetapi juga budayanya di darat pusatnya di Wakatobi,” ujarnya dengan nada bersahabat.

Bagaimana Pak proses Penukaran Uang Asing dengan Uang Rupiah?

“Penukaran Uang Asing dengan Uang Rupiah di Wakatobi agak sulit, kami sadar karena para peserta Wakatobi Sail, mereka (turis) kesulitan dan semuanya akan kembali ke Wakatobi dan sekarang mereka sudah ada 15 hari di Wakatobi, sedangkan di Bali pemecah rekor peserta hanya 7 hari yang paling lama tidak kembali ke Negara asalnya.(BRn30)

Umat Muslim Wakatobi Berunjuk Rasa Di Depan Kantor Bupati Wakatobi

Wakatobi, Buton Raya News.-

Rabu (26/08/2009) lalu, sekitar pukul 8 pagi Waktu Indonesia Tengah (WITA), puluhan Umat Muslim Wakatobi, yakni gabungan dari Perwakilan Remaja Masjid se Kecamatan Wangi-wangi dan Remaja Masjid Se Kecamatan Wangi-wangi Selatan berunjuk rasa di depan Kantor Bupati Wakatobi. Aksi ini digelar oleh para pendemo sebagai salah satu peringatan kepada Pemerintah Kabupaten Wakatobi agar tidak menggelar Festival Wakatobi Sail Indonesia yang dipusatkan di Lapangan Merdeka Wakatobi pada Siang hari mulai Senin hingga Jumat (26-30/08/2009) mendatang.

Wartawan Buton Raya News Biro Wakatobi, Yusman melaporkan via ponsel, bahwa aksi unjuk rasa damai tersebut digelar oleh Perwakilan Remaja Masjid se Kecamatan Wangi-wangi dan Remaja Masjid Se Kecamatan Wangi-wangi Selatan yang mendapatkan dukungan langsung para Aktifis dari kalangan Mahasiswa Kendari asal Wakatobi.

Ketika Para Demonstran tiba di Lapangan Merdeka Wakatobi langsung disambut oleh pengawalan ketat sekitar 32 (tiga puluh dua) orang Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Sat-Pol-PP) Kabupaten Wakatobi yang bersiap siaga di pintu masuk Kantor Bupati Wakatobi dan beberapa Anggota Polisi Resort Wakatobi dari Satuan Intelkam dan Samapta.

Dalam orasinya, Anto sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) aksi unjuk rasa tersebut mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Wakatobi agar Pembukaan Festival Wakatobi Sail Indonesia 2009 jangan (Tidak,Red) digelar di Lapangan Merdeka Wakatobi. Pasalnya, menurut Anto, ketika kegiatan ini digelar bertepatan dengan bulan Suci Ramadhan –terutama pada waktu siang hari– akan sangat mengganggu Umat Islam yang sedang menjalankan Ibadah Puasa.

“Festival Wakatobi Sail Indonesia tidak boleh digelar pada siang hari karena akan sangat mengganggu Umat Islam yang sedang melaksanakan Ibadah Puasa,” tegas Anto kepada Buton Raya News usai berunjuk rasa.

Dengan menggunakan sound system dan berdiri tegak diatas mobil L300, Anto dengan berapi-api menegaskan kepada Pemerintah Wakatobi bahwa permasalahan yang kini menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat merupakan hal yang lucu. Sebab, masih kata Anto, ketika masyarakat sedang melaksanakan ibadah puasa kemudian melihat di anjungan (tepatnya, Red) di tengah-tengah lapangan, kok dalam bulan suci Ramadhan ada prosesi adat (seperti itu,Red), sementara pada tahun-tahun sebelumnya, nenek moyang kita tidak pernah menyuruh untuk mengadakan prosesi adat (seperti itu,Red) ketika memasuki bulan suci Ramadhan.

Lebih jauh Anto menambahkan, yang perlu ditanamkan kepada masyarakat bahwa kita sebagai pemerintah (maupun masyarakat, Red) muslim di Wakatobi, tidak pernah menolak datangnya para turis maupun tamu yang hedak menginjakkan kaki di Bumi Permai Wakatobi. “Namun, kami dari komunitas muslim dan, saya yakin dan percaya bahwa masyarakat tidak pernah meminta untuk dibuatkan prosesi adat (seperti itu,Red),” tegasnya, sembari menambahkan, Turis sebelum masuk di daerah Wakatobi kemungkin sudah memahami kondisi masyarakat setempat.

Lebih lanjut, Anto mempertanyakan, apakah tidak ada kegiatan lain yang lebih bernuansa Islami? “Sebuah prosesi adat tidak pernah mentolerir waktu dan prosesi adat bukan pada waktunya sehingga kami meminta kepada Pemda(Pemkab Wakatobi,Red) untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat yang ada di Lapangan Merdeka Wangi-wangi supaya tidak menimbulkan polemik di masyarakat. Kenapa prosesi adat harus dilakukan pada bulan Suci Ramadhan. Inikan hal yang lucu,” urainya panjang lebar.

Pada hari yang sama namun di tempat terpisah, Bupati Wakatobi, Ir. Hugua kepada wartawan media cetak dan elektronik mengharapkan, agar aksi tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. “Bukankah ada orang yang suka mencari sensasi,” ungkap beliau menanggapi aksi protes tersebut.(BRn31)








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.